Senin, 11 September 2017

METODE PEMBUATAN TABLET

METODE PEMBUATAN TABLET


Metode pembuatan tablet

Tablet adalah bentuk sediaan padat mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan pengisi.

Metode Pembuatan Tablet dapat dibagi menjadi 3 antara lain :
1. Granulasi Basah
Pembuatan tablet dengan metode Granulasi Basah digunakan untuk membuat tablet dengan zat aktif yang mempunyai karaketerisik tidak kompaktibel, mempunyai waktu alir (fluiditas) yang jelek, tahan panas, dan tahan lembab/pembasahan. Secara umum tahapan proses pembuatan tablet dengan metode granulasi basah dapat dilihat pada gambar 1.

Gambar 1. Skema pembuatan tablet dengan metode granulasi basah
Kekurangan pembuatan tablet dengan metode granulasi basah :
1.1. Alat yang digunakan terlalu banyak, karena terdapat banyak tahapan proses
1.2. Ruangan lebih luas untuk menampung alat yang digunakan
1.3. Prosedur lebih komples
1.4. Energi yang digunakan lebih besar karena jumlah alat yang digunakan lebih banyak
1.5. Pekerja/operator jumlahnya lebih banyak untuk mengoperasikan alat.

Kelebihan pembuatan tablet dengan metode granulasi basah :
1.1. Metode granulasi basah dapat meningkatkan fluiditas (sifat alir) dan kompaktibilitas.
1.2. Dapat digunakan untuk membuat tablet dengan dosis obat besar dan memiliki karakteristik zat
       aktif yang tidak kompaktibel
1.3. Dapat mencegah terjadinya segregasi
1.4. Memperbaiki disolusi zat aktif yang hidrofob

Parameter kritis pada proses granulasi basah :
1.1. Jumlah bahan pengikat
Jumlah bahan pengikat yang ditambahkan sangat mempengaruhi konsistensi granul basah yang terbentuk. Jika jumlah bahan pengikat yang ditambahkan terlalu banyak dapat menyebabkan over wetting (granul terlalu basah). Granul yang terlalu basah menyebabkan granul susah diayak dan butuh pengeringan yang lebih lama untuk memperoleh granul kering dengan kadar air yang diinginkan. Pada tahap pembasahan granulasi basah (zat aktif + Zat pengisi + Zat pengawet + Larutan pengikat) terjadi proses sesuai pada gambar 1a.
Gambar 1.b. proses yang terjadi pada tahap pembasahan granulasi basah
Untuk mengetahui jumlah bahan pengikat yang digunakan dalam proses granulasi basah antara lain : snow ball consistency, banana breaking test, soil humidity test.
1.2. Waktu pencampuran
Waktu pencampuran sangat mempengaruhi kesergaman zat aktif yang terkandung dalam granul basah atau pun pada granul kering. Dengan waktu pencampuran yang tepat diharapkan terjadi pencampuran yang efektif antara zat aktif dengan zat tambahan lainnya sehingga terbentuk campuran yang homogen dan memiliki sifat alir yang baik
1.3. Lama Pengeringan
Waktu perngeringan berhubungan erat dengan kadar air yang terkandung dalam kadar air. Dengan Kadar air yang tepat maka akan mempermudah pada proses pengempaan ataupun pencetakan. Jika granul yang dihasilkan terlalu basah dapat menyebabkan lengketnya granul pada proses pencetakan. Jika granul yang dihasilkan terlalu kering dapat menyebabkan capping pada proses pencetakan.

2. Granulasi Kering
Pembuatan tablet dengan metode Granulasi Kering digunakan untuk membuat tablet dengan zat aktif yang mempunyai karaketerisik tidak kompaktibel, mempunyai waktu alir (fluiditas) yang jelek, tidak tahan panas, dan tidak tahan lembab/pembasahan. Secara umum tahapan proses pembuatan tablet dengan metode granulasi kering dapat dilihat pada gambar 2.

Gambar 2. Skema pembuatan tablet dengan metode granulasi kering
Pembuatan tablet dengan metode granulasi kering harus menggunakan zat aktif dan atau zat tambahan yang mempunyai reworking potensial yang baik. Reworking potensial yang dimaksud disini adalah kemampuan suatau bahan untuk mempertahankan kualitasnya walaupun mengalami pengempaan berkali-kali.

3. Kempa Langsung
Pembuatan tablet dengan metode Kempa Langsung digunakan untuk membuat tablet dengan zat aktif yang mempunyai karaketerisik kompaktibel, mempunyai waktu alir (fluiditas) yang baik, . Secara umum tahapan proses pembuatan tablet dengan metode kempa langsung dapat dilihat pada gambar 3.
Gambar 3. Skema pembuatan tablet dengan metode kempa langsung

Granulasi


Granulasi
            Proses pembuatan granul merupakan tahap awal yang paling penting pada proses pembuatan tablet. Pembuatan granul atau granulasi merupakan proses pembesaran ukuran serbuk dimana suatu campuran serbuk yang mempunyai daya kohesi kecil diubah menjadi ukuran partikel yang lebih besar dengan perubahan sifat sebagai berikut :
  1. Meningkatkan ukuran partikel
  2. Memperbaiki sifat alir dengan penyebaran dosis yang merata
  3. Menghasilkan serbuk partikel yang lebih uniform, ukuran spasifik yang sama, dan  bentuk yang hamper sama
  4. Mencegah pemisahan dari bahan-bahan selama proses pencetakan
  5. Memperbaiki karakteristik kompresi dari campuran
Granulasi dimulai dengan pencampuran bahan aktif yang diperlukan sehingga dicapai satu bentuk (uniform) masing-masing bahan aktif melalui campuran. Setelah granulasi, granul- granul akan dibungkus jika digunakan sebagai sediaan obat atau dicampur dengan bahan penambah lainnya sebelum pencetakan tablet atau dimasukkan ke dalam kapsul.
Keuntungan granulasi, antara lain:
  1. Serbuk dalam bentuk granul akan memperbaiki tampilan obat
  2. Granul akan membentuk campuran serbuk yang mempunyai distribusi bahan akftif dan eksipien yang homogen.
  3. Akan menurunkan volume ruang, sehingga memudahkan proses penyimpanan dan pengeringan.
Granul yang baik adalah partikel-partikel yang berbentuk bundar atau sferis atau mendekati bundar serta mempunyai distribusi ukuran partikel yang mengikuti kurva distribusi normal dengan presentasi ukuran yang kecil dengan ukuran yang besar.
Proses pembuatan tablet dibagi menjadi tiga cara, yaitu:
  1. Cetak Langsung
Bahan obat dengan atau tanpa bahan tambahan langsung dicetak.
Syarat:
-          Punya sifat alir yang baik
-          Daya ikat kuat dan mudah dimampatkan
-          Stabil secara fisikokimia
-          Memiliki Bobot Jenis yang tidak terlalu berbeda
-          Dapat dicampurkan
Cara ini merupakan cara yang paling sederhana, sebab tidak memerlukan peralatan untuk proses granulasi ataupun prosedur pengeringan, seperti cara-cara lainnya bahkan seringkali tidak memerlukan tambahan bahan-bahan pembantu tablet lainnya, sebab zat khasiat dapat dicetak langsung menjadi tablet.
  1. Granulasi Kering (slugging)
Disebut juga cara pencetakan ganda, oleh karena di dalam proses pembuatannya tidak memerlukan air dan pencetakan dilakukan berulang-ulang. Cara ini berlaku untuk zat khasiat  yang tidak stabil dengan adanya air atau panas dan sifatnya hidrofil sebab sifat yang demikian sangat menolong sewaktu pencetakan berlangsung, bila sifat ini kurang dipenuhi, disarankan untuk mencampurkannya dengan bahan pengisi yang memiliki sifat kohesif yang lebih besar.
Cara :
Setelah proses pencampuran bahan aktif dengan air atau dengan bahan pengisi lainnya, lalu dimasukkan ke dalam hopper dan dicetak dengan stempel dan mariks berukuran 2,18-2,5 cm atau lebih besar 1,875-3,4375 cm. Dengan cara ini pengisian campuran serbuk lebih mudah dan dapat diberikan tekanan besar pada pencetakan dan inilah yang dikenal dengan ‘slug’.
Granulasi slug, dimana campuran bahan  tersebut lalu dipaksakan melalui ayakan dengan ukuran yang sesuai sehingga terbentuk granul. Lalu dilakukan pencampuran granul dengan lubrikan yang sesuai (proses lubrikasi). Setelah itu dilakukan pencetakan, dimana campuran tersebut dicetak menjadi tablet dengan menggunakan stempel dan matriks yang sesuai dengan bobot tablet yang diinginkan.
  1. Granulsi Basah
Cara ini merupakan cara yang paling umum sebab hamper semua jenis zat khasiat dapat diproses secara granulasi basah. Granulasi basah di dalam proses pembuatan granulnya mempergunakan larutan bahan pengikat dalam air seperti mucilage CMC, gom arab, gelatin, pasta pati, dll. Tablet yang dihasilkan secara granulasi basah umumnya lebih kompak dan lebih keras dibandingkan secara cetak langsung.
Cara :
Setelah digunakan penimbangan bahan dan pencampuran bahan-bahan yang digunakan, dilakukan granulasi yaitu campuran serbuk dibasahi dengan larutan bahan pengikat sampai diperoleh distribusi bahan pengikat yang homogen, yang ditandai dengan campuran dapat dikepal seperti salju, yang bila kepalan ditekan akan pecah dalam distribusi ukuran partikel granul yang merata.Lalu adonan tersebut diayak sehingga diperoleh granul dengan ukuran merata dan kompak (disebut Pengayakan massa basah).
Granul kemudian dikeringkan di dalam lemari pengering dengan suhu pengeringan 50 – 60 oC. Lalu dilakukan pencampuran granul dengan lubrikan yang sesuai (proses lubrikasi). Setelah itu dilakukan pencetakan, dimana campuran tersebut dicetak menjadi tablet dengan menggunakan stempel dan matriks yang sesuai dengan bobot tablet yang diinginkan.
  1. Granulasi Dasar
Tahap pengerjaan sama seperti granulasi basah pada umumnya hanya pada cara granulasi dasar, zat khasiat tidak dicampurkan bersama bahan pengisi dan bahan penghancur dalam tetapi ditambahkan sebagai ‘fines’ kedalam granul kering bersama dengan bahan penghancur luar dan lubrikan.

HPLC (High Performance Liquid Chromatography)

HPLC (High Performance Liquid Chromatography) atau biasa juga disebut dengan Kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT) dikembangkan pada akhir tahun 1960-an dan awal tahun 1970-an. Saat ini, HPLC merupakan teknik pemisahan yang diterima secara luas untuk analisis bahan obat, baik dalam bulk atau dalam sediaan farmasetik. 


 
SISTEM PERALATAN HPLC
Instrumentasi HPLC pada dasarnya terdiri atas: wadah fase gerak, pompa, alat untuk memasukkan sampel (tempat injeksi), kolom, detektor, wadah penampung buangan fase gerak, dan suatu komputer atau integrator atau perekam.
Diagram skematik sistem kromatografi cair seperti ini :



1. Wadah Fase gerak dan Fase gerak
Wadah fase gerak harus bersih dan lembam (inert). Wadah pelarut kosong ataupun labu laboratorium dapat digunakan sebagai wadah fase gerak. Wadah ini biasanya dapat menampung fase gerak antara 1 sampai 2 liter pelarut(1).
Fase gerak atau eluen biasanya terdiri atas campuran pelarut yang dapat bercampur yang secara keseluruhan berperan dalam daya elusi dan resolusi. Daya elusi dan resolusi ini ditentukan oleh polaritas keseluruhan pelarut, polaritas fase diam, dan sifat komponen-komponen sampel. Untuk fase normal (fase diam lebih polar daripada fase gerak), kemampuan elusi meningkat dengan meningkatnya polaritas pelarut. Sementara untuk fase terbalik (fase diam kurang polar daripada fase gerak), kemampuan elusi menurun dengan meningkatnya polaritas pelarut.

Fase gerak sebelum digunakan harus disaring terlebih dahulu untuk menghindari partikel-partikel kecil ini. Selain itu, adanya gas dalam fase gerak juga harus dihilangkan, sebab adanya gas akan berkumpul dengan komponen lain terutama di pompa dan detektor sehingga akan mengacaukan analisis.

Elusi dapat dilakukan dengan cara isokratik (komposisi fase gerak tetap selama elusi) atau dengan cara bergradien (komposisi fase gerak berubah-ubah selama elusi) yang analog dengan pemrograman suhu pada kromatografi gas. Elusi bergradien digunakan untuk meningkatkan resolusi campuran yang kompleks terutama jika sampel mempunyai kisaran polaritas yang luas.4)
 
Fase gerak yang paling sering digunakan untuk pemisahan dengan fase terbalik adalah campuran larutan bufer dengan metanol atau campuran air dengan asetonitril. Untuk pemisahan dengan fase normal, fase gerak yang paling sering digunakan adalah campuran pelarut-pelarut hidrokarbon dengan pelarut yang terklorisasi atau menggunakan pelarut-pelarut jenis alkohol. Pemisahan dengan fase normal ini kurang umum dibanding dengan fase terbalik.2)

2. Pompa
Pompa yang cocok digunakan untuk HPLC adalah pompa yang mempunyai syarat sebagaimana syarat wadah pelarut yakni: pompa harus inert terhadap fase gerak. Bahan yang umum dipakai untuk pompa adalah gelas, baja tahan karat, Teflon, dan batu nilam. Pompa yang digunakan sebaiknya mampu memberikan tekanan sampai 5000 psi dan mampu mengalirkan fase gerak dengan kecepatan alir 3 mL/menit. Untuk tujuan preparatif, pompa yang digunakan harus mampu mengalirkan fase gerak dengan kecepatan 20 mL/menit.
Tujuan penggunaan pompa atau sistem penghantaran fase gerak adalah untuk menjamin proses penghantaran fase gerak berlangsung secara tepat, reprodusibel, konstan, dan bebas dari gangguan. Ada 2 jenis pompa dalam HPLC yaitu: pompa dengan tekanan konstan, dan pompa dengan aliran fase gerak yang konstan. Tipe pompa dengan aliran fase gerak yang konstan sejauh ini lebih umum dibandingkan dengan tipe pompa dengan tekanan konstan.6)

3. Tempat penyuntikan sampel
Sampel-sampel cair dan larutan disuntikkan secara langsung ke dalam fase gerak yang mengalir di bawah tekanan menuju kolom menggunakan alat penyuntik yang terbuat dari tembaga tahan karat dan katup teflon yang dilengkapi dengan keluk sampel (sample loop) internal atau eksternal.
Posisi pada saat memuat sampel                 Posisi pada saat menyuntik sampel

4. Kolom dan Fase diam
Ada 2 jenis kolom pada HPLC yaitu kolom konvensional dan kolom mikrobor. Kolom merupakan bagian HPLC yang mana terdapat fase diam untuk berlangsungnya proses pemisahan solut/analit.

Kolom mikrobor mempunyai 3 keuntungan yang utama dibanding dengan kolom konvensional, yakni:
  • Konsumsi fase gerak kolom mikrobor hanya 80% atau lebih kecil dibanding dengan kolom konvensional karena pada kolom mikrobor kecepatan alir fase gerak lebih lambat (10 -100 μl/menit).
  • Adanya aliran fase gerak yang lebih lambat membuat kolom mikrobor lebih ideal jika digabung dengan spektrometer massa.
  • Sensitivitas kolom mikrobor ditingkatkan karena solut lebih pekat, karenanya jenis kolom ini sangat bermanfaat jika jumlah sampel terbatas misal sampel klinis.
Meskipun demikian, dalam prakteknya, kolom mikrobor ini tidak setahan kolom konvensional dan kurang bermanfaat untuk analisis rutin.3]
Kebanyakan fase diam pada HPLC berupa silika yang dimodifikasi secara kimiawi, silika yang tidak dimodifikasi, atau polimer-polimer stiren dan divinil benzen. Permukaan silika adalah polar dan sedikit asam karena adanya residu gugus silanol (Si-OH).
Silika dapat dimodifikasi secara kimiawi dengan menggunakan reagen-reagen seperti klorosilan. Reagen-reagen ini akan bereaksi dengan gugus silanol dan menggantinya dengan gugus-gugus fungsional yang lain.

Oktadesil silika (ODS atau C18) merupakan fase diam yang paling banyak digunakan karena mampu memisahkan senyawa-senyawa dengan kepolaran yang rendah, sedang, maupun tinggi. Oktil atau rantai alkil yang lebih pendek lagi lebih sesuai untuk solut yang polar. Silika-silika aminopropil dan sianopropil (nitril) lebih cocok sebagai pengganti silika yang tidak dimodifikasi. Silika yang tidak dimodifikasi akan memberikan waktu retensi yang bervariasi disebabkan karena adanya kandungan air yang digunakan. 

5. Detektor HPLC
Detektor pada HPLC dikelompokkan menjadi 2 golongan yaitu: detektor universal (yang mampu mendeteksi zat secara umum, tidak bersifat spesifik, dan tidak bersifat selektif) seperti detektor indeks bias dan detektor spektrometri massa; dan golongan detektor yang spesifik yang hanya akan mendeteksi analit secara spesifik dan selektif, seperti detektor UV-Vis, detektor fluoresensi, dan elektrokimia.

Idealnya, suatu detektor harus mempunyai karakteristik sebagai berikut:
  1. Mempunyai respon terhadap solut yang cepat dan reprodusibel.
  2. Mempunyai sensitifitas yang tinggi, yakni mampu mendeteksi solut pada kadar yang sangat kecil.
  3. Stabil dalam pengopersiannya.
  4. Mempunyai sel volume yang kecil sehingga mampu meminimalkan pelebaran pita.
  5. Signal yang dihasilkan berbanding lurus dengan konsentrasi solut pada kisaran yang luas (kisaran dinamis linier).
  6. Tidak peka terhadap perubahan suhu dan kecepatan alir fase gerak.2)
Beberapa detektor yang paling sering digunakan pada HPLC dengan karakteristik detektor seperti berikut :
Detektor
Sensitifitas (g/ml)
Kisaran linier
Karakteristik
Absorbansi Uv-vis
Fotometer filter
Spektrofotometer
spektrometer photo-diode array
5 x 10-10
5 x 10-10
> 2 x 10-10
104
105
105
Sensitivitas bagus, paling sering digunakan, selektif terhadap gugus-gugus dan struktur-struktur yang tidak jenuh.
Fluoresensi
10-12
104
Sensitifitas sangat bagus, selektif, Tidak peka terhadap perubahan suhu dan kecepatan alir fase gerak.
Indeks bias
5 x 10-7
104
Hampir bersifat universal akan tetapi sensitivitasnya sedang. Sangat sensitif terhadap suhu, dan tidak dapat digunakan pada elusi bergradien
Elektrokimia
Konduktimetri
Amperometri
10-8
10-12
104
105
Peka terhadap perubahan suhu dan kecepatan alir fase gerak, tidak dapat digunakan pada elusi bergradien. Hanya mendeteksi solut-solut ionik. Sensitifitas sangat bagus, selektif tetapi timbul masalah dengan adanya kontaminasi elektroda.
JENIS HPLC
Pemisahan dengan HPLC dapat dilakukan dengan fase normal (jika fase diamnya lebih polar dibanding dengan fase geraknya) atau fase terbalik (jika fase diamnya kurang non polar dibanding dengan fase geraknya). Berdasarkan pada kedua pemisahan ini, sering kali HPLC dikelompokkan menjadi HPLC fase normal dan HPLC fase terbalik.
Selain klasifikasi di atas, HPLC juga dapat dikelompokkan berdasarkan pada sifat fase diam dan atau berdasarkan pada mekanisme sorpsi solut, dengan jenis-jenis HPLC sebagai berikut:
1. Kromatografi Adsorbsi
Prinsip kromatografi adsorpsi telah diketahui sebagaimana dalam kromatografi kolom dan kromatografi lapis tipis. Pemisahan kromatografi adsorbsi biasanya menggunakan fase normal dengan menggunakan fase diam silika gel dan alumina, meskipun demikian sekitar 90% kromatografi ini memakai silika sebagai fase diamnya. Pada silika dan alumina terdapat gugus hidroksi yang akan berinteraksi dengan solut. Gugus silanol pada silika mempunyai reaktifitas yang berbeda, karenanya solut dapat terikat secara kuat sehingga dapat menyebabkan puncak yang berekor.3)

2. Kromatografi fase terikat
Kebanyakan fase diam kromatografi ini adalah silika yang dimodifikasi secara kimiawi atau fase terikat. Sejauh ini yang digunakan untuk memodifikasi silika adalah hidrokarbon-hidrokarbon non-polar seperti dengan oktadesilsilana, oktasilana, atau dengan fenil. Fase diam yang paling populer digunakan adalah oktadesilsilan (ODS atau C18) dan kebanyakan pemisahannya adalah fase terbalik.
Sebagai fase gerak adalah campuran metanol atau asetonitril dengan air atau dengan larutan bufer. Untuk solut yang bersifat asam lemah atau basa lemah, peranan pH sangat krusial karena kalau pH fase gerak tidak diatur maka solut akan mengalami ionisasi atau protonasi. Terbentuknya spesies yang terionisasi ini menyebabkan ikatannya dengan fase diam menjadi lebih lemah dibanding jika solut dalam bentuk spesies yang tidak terionisasi karenanya spesies yang mengalami ionisasi akan terelusi lebih cepat.3)

3. Kromatografi penukar ion
KCKT penukar ion menggunakan fase diam yang dapat menukar kation atau anion dengan suatu fase gerak. Ada banyak penukar ion yang beredar di pasaran, meskipun demikian yang paling luas penggunaannya adalah polistiren resin.
Kebanyakan pemisahan kromatografi ion dilakukan dengan menggunakan media air karena sifat ionisasinya. Dalam beberapa hal digunakan pelarut campuran misalnya air-alkohol dan juga pelarut organik. Kromatografi penukar ion dengan fase gerak air, retensi puncak dipengaruhi oleh kadar garam total atau kekuatan ionik serta oleh pH fase gerak. Kenaikan kadar garam dalam fase gerak menurunkan retensi solut. Hal ini disebabkan oleh penurunan kemampuan ion sampel bersaing dengan ion fase gerak untuk gugus penukar ion pada resin.

4. Kromatografi Pasangan ion
Kromatografi pasangan ion juga dapat digunakan untuk pemisahan sampel-sampel ionik dan mengatasi masalah-masalah yang melekat pada metode penukaran ion. Sampel ionik ditutup dengan ion yang mempunyai muatan yang berlawanan.2)

5. Kromatografi Eksklusi Ukuran
Kromatografi ini disebut juga dengan kromatografi permiasi gel dan dapat digunakan untuk memisahkan atau menganalisis senyawa dengan berat molekul > 2000 dalton.
Fase diam yang digunakan dapat berupa silika atau polimer yang bersifat porus sehingga solut dapat melewati porus (lewat diantara partikel), atau berdifusi lewat fase diam. Molekul solut yang mempunyai BM yang jauh lebih besar, akan terelusi terlebih dahulu, kemudian molekul-molekul yang ukuran medium, dan terakhir adalah molekul yang jauh lebih kecil. Hal ini disebabkan solut dengan BM yang besar tidak melewati porus, akan tetapi lewat diantara partikel fase diam. Dengan demikian, dalam pemisahan dengan eksklusi ukuran ini tidak terjadi interaksi kimia antara solut dan fase diam seperti tipe kromatografi yang lain.

6. Kromatografi Afinitas
Dalam kasus ini, pemisahan terjadi karena interaksi-interaksi biokimiawi yang sangat spesifik. Fase diam mengandung gugus-gugus molekul yang hanya dapat menyerap sampel jika ada kondisi-kondisi yang terkait dengan muatan dan sterik tertentu pada sampel yang sesuai (sebagaimana dalam interaksi antara antigen dan antibodi).
Kromatografi jenis ini dapat digunakan untuk mengisolasi protein (enzim) dari campuran yang sangat kompleks.2)

DERIVATISASI PADA HPLC
Derivatisasi melibatkan suatu reaksi kimia antara suatu analit dengan suatu reagen untuk mengubah sifat fisika-kimia suatu analit. Tujuan utama penggunaan derivatisasi pada HPLC adalah untuk:

  1. Meningkatkan deteksi
  2. Merubah struktur molekul atau polaritas analit sehingga akan menghasilkan puncak kromatografi yang lebih baik
  3. Merubah matriks sehingga diperoleh pemisahan yang lebih baik
  4. Menstabilkan analit yang sensitif.5)
Detektor yang paling banyak digunakan dalam HPLC adalah detektor UV-Vis sehingga banyak metode yang dikembangkan untuk memasang atau menambahkan gugus kromofor yang akan menyerap cahaya pada panjang gelombang tertentu. Di samping itu, juga dikembangkan suatu metode untuk menghasilkan fluorofor (senyawa yang mamapu berfluoresensi) sehingga dapat dideteksi dengan fluorometri.7)
Suatu reaksi derivatisasi harus mempunyai syarat-syarat sebagai berikut, yakni: produk yang dihasilkan harus mampu menyerap baik sinar ultraviolet atau sinar tampak atau dapat membentuk senyawa berfluoresen sehingga dapat dideteksi dengan spektrofluorometri; proses derivatisasi harus cepat dan menghasilkan produk yang sebesar mungkin (100 %); produk hasil derivatisasi harus stabil selama proses derivatisasi dan deteksi; serta sisa pereaksi untuk derivatisasi harus tidakmenganggu pemisahan kromatografi.7)

Berbagai macam bahan penderivat telah tersedia antara lain :

Gugus fungsional
Reagen untuk dapat dideteksi dengan UV-Vis
Reagen untuk dapat dideteksi dengan Fluoresen
Asam-asam kaboksilat; asam-asam lemak;asam-asam fosfat
p-nitrobenzil-N,N’-diisopropilisourea (PNBDI); 3,5-dinitrobenzil-N,N’-diisopropilisourea (DNBDI); p-bromofenasil bromida (PBPB)
4-bromometil-7-asetoksikumarin;
4-bromometil-7-metoksikumarin;
Alkohol
3,5-dinitrobenzil klorida (DNBC); 4-dimetilaminiazobenzen-4-sulfinil (Dabsyl-Cl); 1-naftilisosianat (NIC-1).
Aldehid; keton
p-nitrobenziloksiamin hidroklorida (PNBA); 3,5-dinitrobenziloksiamin hidroklorida (DNBA);
Dansil hidrazin
Amin primer
Fluoresamin
o-ftalaldehid (OPA)
Amin primer (1o) dan sekunder (2o)
3,5-dinitrobenzil klorida (DNBC); N-suksinimidil-p-nitrofenilasetat (SNPA); N-suksinimidil-3,5-dinitrofenilasetat (SDNPA); 4-dimetilaminiazobenzen-4-sulfinil (Dabsyl-Cl); 1-naftilisosianat (NIC-1).
7-kloro-4-nitrobenzo-2-oksa-1,3-diazol (NBD-Cl); 7-fluoro-4-nitrobenzo-2-oksa-1,3-diazol (NBD-F); Dansil klorida
Asam-asam amino (peptida)
4-dimetilaminiazobenzen-4-sulfinil (Dabsil-Cl)
Fluoresamin
o-ftalaldehid (OPA)
7-kloro-4-nitrobenzo-2-oksa-1,3-diazol (NBD-Cl); 7-fluoro-4-nitrobenzo-2-oksa-1,3-diazol (NBD-F);
Derivatisasi ini dapat dilakukan sebelum analit memasuki kolom (pre-column derivatization) atau setelah analit keluar dari kolom (post-column derivatization).


Referensi:
  1. Settle, F (Editor), 1997, Handbook of Instrumental Techniques for Analytical Chemistry, Prentice Hall PTR, New Jersey, USA.
  2. Meyer, F.R., 2004, Practical High-Performance Liquid Chromatography, 4th Ed., John Wiley & Sons, New York.
  3. Kealey, D and Haines, P.J., 2002, Instant Notes: Analytical Chemistry, BIOS Scientific Publishers Limited, New York.
  4. Kenkel, J., 2002, Analytical Chemistry for Technicians, 3th. Edition., CRC Press, U.S.A.
  5. Snyder, L. R.,  Kirkland, S.J., and Glajch, J.L., 1997, Practical HPLC Method Development, John Wiley & Son, New York.
  6. Munson, J.W., 1981, Phrarmaceutical Analysis: Modern Methods, Part A and B, diterjemahkan oleh Harjana dan Soemadi, Airlangga University Press, Surabaya.
  7. Cserhati, T. And Forgacs, E., 1999, Chromatography in Food science and Technology, Technomic Publishing, Lancaster, Basel.

WADAH DAN PENYIMPANAN OBAT


WADAH DAN PENYIMPANAN OBAT


Wadah dan  sumbatnya dapat mempengaruhi bahan yang disimpan di dalamnya baik secara kimia maupun fisika yang dapat mengakibatkan perubahan khasiat, mutu atau kemurniannya hingga tidak memenuhi syarat baku.
Ada tiga kategori kualitas wadah, yaitu:
  1. Wadah tertutup baik, harus melindungi isinya terhadap pemasukan bahan padat dari luar dan mencegah kehilangan isi waktu pengurusan, pengangkutan, penyimpanan, dan penjualan dalam kondisi normal.
  2. Wadah tertutup rapat, harus melindungi isinya terhadap masuknya bahan padat, lengas dari luar dan mencegah kehilangan, pelapukan, pencairan, dan penguapan pada waktu pengurusan, pengangkutan, penyimpanan dan penjualan dalam kondisi normal.
  3. Wadah tertutup kedap, harus mencegah menembusnya udara atau gas pada waktu pengurusan, pengangkutan, penyimpanan, dan penjualan dalam kondisi normal.
Wadah satuan tunggal, harus tertutup sehingga isinya tidak dapat dipindahkan tanpa merusak tutupnya. Wadah satuan tunggal untuk injeksi disebut wadah dosis tunggal.
Wadah dosis satuan, adalah wadah satuan tunggal untuk bahan yang digunakan bukan secara parenteral dalam dosis tunggal langsung dari wadah.
Wadah satuan ganda, memungkinkan dapat diambil sebagian isinya tanpa ada perubahan potensi, mutu, dan kemurnian zat dalam wadah. Wadah satuan ganda untuk injeksi disebut wadah dosis ganda.

Wadah dan sumbatnya tidak boleh mempengaruhi bahan yang disimpan didalamnya, baik secara kimia maupun secara fisika yang dapat mengakibatkan perubahan kekuatan, mutu atau kemurniannya sehingga tidak memenuhi persyaratan resmi.

Wadah tidak tembus cahaya

Wadah tidak tembus cahaya harus dapat melindungi isi dari pengaruh cahaya, dibuat dari bahan khusus yang mempunyai sifat menahan cahaya. Wadah yang bening dan tidak berwarna atau wadah yang tembus cahaya dapat dibuat tidak tembus cahaya dengan dengan cara memberi pembungkus yang buram.


PENYIMPANAN OBAT


Obat harus disimpan sehingga tercegah cemaran dan peruraian, terhindar dari pengaruh udara, kelembapan, panas, dan cahaya.
Obat yang mudah menguap atau terurai harus disimpan dalam wadah tertutup rapat.
Obat yang mudah menyerap lembab harus disimpan dalam wadah tertutup rapat berisi kapur tohor.
Obat yang menyerap CO2 harus disimpan dalam wadah dengan pertolongan kapur tohor atau zat lain yang cocok.
Keadaan kebasahan udara dinyatakan dengan tekanan uap air relatif, yaitu perbandingan antara tekanan uap di udara dengan tekanan uap maksimum pada temperatur tersebut. Tekanan uap relatif ditentukan dengan higrometer.
Arti disimpan terlindung dari cahaya berarti disimpan dalam wadah inaktinik, sedang disimpan sangat terlindung dari cahaya berarti disimpan terlindung cahaya dan wadahnya masih harus dibungkus dengan kertas hitam atau kertas lain tidak tembus cahaya.
Penyimpanan pada suhu kamar adalah disimpan pada suhu 15°C hingga 30°C
Penyimpanan di tempat sejuk adalah disimpan pada suhu 5°C hingga 15°C
Penyimpanan di tempat dingin adalah disimpan pada suhu 0°C hingga 5°C
Penyimpanan di tempat lewat dingin adalah disimpan pada suhu -15°C hingga 0°C

SUHU PENYIMPANAN


Dingin adalah suhu tidak lebih 8°C
Lemari pendingin suhunya antara 2°C sampai 8°C
Lemari pembeku suhunya antara -20°C sampai -10°C
Sejuk adalah suhu antara 8°C dan 15°C bila perlu disimpan dalam lemari pendingin
Suhu kamar adalah suhu antara 15°C sampai 30°C
Hangat adalah suhu antara 30°C sampai 40°C
Panas berlebih adalah suhu diatas 40°C
Sumber:
Anief, Moh. (2010). Ilmu Meracik Obat. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

Senin, 26 Desember 2016

cara mengetahui umur fosil

Sebagai orang yang berpendidikan, sedikit banyak kita telah menerima warisan pengetahuan dari generasi sebelumnya. Dengan bersekolah, dengerin cerita guru sejarah, baca buku, atau nonton film dokumenter, kita yang hidup di abad 21 ini jadi bisa tahu tentang apa yang terjadi di dunia ini dari mulai ratusan, ribuan, bahkan jutaan tahun yang lalu. Tapi pernah gak sih lo berpikir... gimana sih caranya rantai informasi itu tidak terputus?
Untuk kejadian yang masih 'baru' terjadi puluhan sampai ratusan tahun yang lalu, para sejarahwan masih bisa berpatokan pada tulisan/jurnal yang ditulis oleh peradaban masa lalu, entah itu terukir di prasasti atau candi, tertulis di daun lontar, pelepah pohon, serat kayu, dinding gua, dsb.
Tapi gimana dengan pengetahuan kita tentang kehidupan pra-sejarah ketika manusia belum mampu "menyuarakan" keberadaannya berupa gambar atau tulisan? Dari mana sih para ilmuwan arkeologist, palentologist, dan ahli geologi bisa tau tentang kondisi dunia pada masa lampau sehingga kita tau bahwa jutaan tahun yang lalu itu ada dinosaurus, ada manusia purba, ada ikan hiu raksasa (megalodon), dlsb?
Seperti yang mungkin sebagian besar lo ketahui, sumber informasi utama bagi para ilmuwan untuk meraba kehidupan pada zaman pra-sejarah berasal dari fosil yang ditemukan. Fosil dalam arti adalah sisa-sisa atau jejak mahluk hidup dari masa lalu yang terawetkan secara alami memang bisa memberikan banyak informasi kepada kita yang hidup di jaman modern tentang kondisi kehidupan di masa lampau. Dari mulai kapan makhluk hidup yang terfosilisasi itu hidup, bagaimana bentuknya, cara kerja sistem tubuhnya, sampai kondisi lingkungan pada jaman makhluk itu hidup.
ida1.wide_
Fosil specimen Ida, Darwinius masillae. Diduga kuat sebagai nenek moyang seluruh primata yang hidup sekitar 47 juta tahun yang lalu
Eh tapi tunggu dulu nih... sebelum kita percaya gitu aja dengan omongan para ilmuwan itu. Pernah gak sih lo kepikiran darimana mereka (para ilmuwan) bisa mendapatkan informasi sebanyak dan sedetail itu hanya dengan menggali tulang-belulang? Gak usah jauh-jauh mikirin gimana bentuknya makhluk itu dan cara hidupnya dulu deh... coba kita telaah dulu pertanyaan yang lebih sederhana : Gimana caranya para ilmuwan tahu bahwa fosil yang ditemukan berasal dari ratusan, ribuan, atau bahkan jutaan tahun yang lalu?
Okay, pada kesempatan kali ini, gua akan membahas 2 pendekatan/metode yang dilakukan para ilmuwan untuk menjawab pertanyaan:

"Darimana para ilmuwan tahu umur dari fosil yang ditemukan?"

Pendekatan ilmu seperti apa sih yang dilakukan para ilmuwan untuk mengetahui kejadian masa lampau? Apakah metode-metode yang dilakukan betul-betul bisa dipertanggung-jawabkan? Sejauh mana sih tingkat akurasi dari metode tersebut? Apakah proses cara kerja ilmuwan ini betul-betul dilakukan secara teliti, presisi, sehingga layak diakui oleh seluruh dunia?
Nah, pada tulisan kali ini gua akan membahas 2 metode/pendekatan yang digunakan para ilmuwan untuk mengetahui umur dari fosil, yaitu Radiocarbon Dating & Stratigrafi. Yuk kita langsung aja mulai pembahasannya!

1. Metode Radiometric Dating

Metode radiometric dating ini sangat umum dilakukan oleh ahli arkeolog, yang pada intinya adalah menghitung perbandingan unsur tertentu pada specimen fosil untuk kemudian dibandingkan dengan kandungan unsur yang sama pada atmosfir dengan prinsip waktu paruh peluruhan atom. Dari semua jenis radiometric dating ini, yang akan gua bahas adalah pendekatan unsur karbon atau lebih ngetren dengan istilah carbon dating atau C-14 dating. Metode ini dikembangkan oleh professor Kimia di Amrik bernama Willard Libby di akhir 1940an yang akhirnya menjadi metode standard bagi para arkeolog di seluruh dunia. Apa sih ide di balik metode ini?
Ketika seorang ilmuwan menemukan fosil yang belum teridentifikasi, entah itu fosil hewan atau tumbuhan. Pertanyaan utama yang bikin penasaran adalah "Ini fosil umurnya udah berapa tahun? ratusan tahun, ribuan tahun, atau jutaan tahun?". Nah untuk menjawab pertanyaan ini, gua mau bahas sedikit tentang pelajaran dasar Kimia tentang konsep isotop.
Kalian inget kan, jenis dan sifat dasar unsur itu ditentukan sama jumlah proton di dalem inti atom. Kalau proton di atom ada satu, namanya Hidrogen. Kalau ada dua, namanya Helium. Dan seterusnya bisa kita liat di tabel periodik seperti ini:
tabel periodik
Nah, coba kita liat salah satu unsur, yang paling simpel aja, Hidrogen. Hidrogen itu kan atom apapun yang  punya satu proton. Tapi kan komponen atom kan ngga cuma proton. Ada neutron dan elektron. Nah, elektron dalam keadaan dasar jumlahnya pasti sama dengan proton, dan kalau berubah bakal membuat atom tersebut jadi ion.
Tapi masalahnya jumlah neutron itu berbeda-beda. Contohnya, H-1 (Hidrogen-1) punya satu proton dan nol neutron. H-2 punya satu proton satu neutron, dan H-3 punya satu proton dan dua neutron. H-1, H-2 dan H-3 adalah isotop dari Hidrogen. Nama kerennya H-2 disebut Deuterium dan H-3 disebut Tritium. Mereka sama-sama punya satu proton, tapi jumlah neutronnya berbeda.
Angka setelah nama unsur itu nunjukin jumlah proton dan neutron, yang bakal mempengaruhi beberapa sifat unsur itu. Sifat pertama yang berubah, adalah massa-nya, yang kedua adalah sifat radioaktivitasRadioaktivitas atau peluruhan adalah reaksi yang terjadi pada inti atom itu sendiri karena sifat inti atom yang ngga stabil. Kita bisa liat di grafik di bawah, reaksi ini terjadi kalau perbandingan jumlah proton dan neutron ngga begitu seimbang.
proton
Pada atom-atom radioaktif ini, terjadi peluruhan alias emisi partikel yang jenisnya tergantung sama jumlah proton dan neutronnya. Kalau protonnya lebih tinggi, biasanya yang dikeluarkan adalah partikel bermuatan positif seperti partikel alfa (α), positron (b+) atau proton (p). Sebaliknya, kalau neutronnya lebih tinggi, yang dikeluarkan adalah yang negatif (b-) atau netral (n). Jenis-jenis peluruhan ini ngga gue bahas menyeluruh di sini, tapi yang penting adalah konsep "waktu paruh" (half-life). Konsep "waktu paruh" inilah yang menjadi kunci para ilmuwan untuk mengungkap pertanyaan "berapa tahun umur fosil ini?". Wah, apaan tuh konsep waktu paruh?
Half-life atau waktu paruh adalah waktu yang dibutuhkan untuk sejumlah atom radioaktif meluruh setengahnya. Misalnya, Terbium-148 adalah atom radioaktif yang mengeluarkan partikel b+ dan menjadi Gadolinium-148, reaksi lengkapnya:
Waktu paruh dari Tb-148 adalah exactly satu jam. Apa artinya? Kalau kita punya 100 atom Tb-148 sekarang, satu jam lagi kita akan hanya punya setengahnya, alias 50 atom. Satu jam kemudian alias dua jam dari sekarang, sisanya tinggal 25 atom. Intinya, jumlah dari atom radioaktif akan berkurang setengah setiap satu satuan waktu paruh. Di bawah ini contoh animasi dari detik 0 sampai 4 kali waktu paruh, di mana jumlah partikel udah berkurang jadi (0.5)4 alias seperenambelasnya.
Halflife-sim
Nah konsep waktu paruh itulah yang kita aplikasikan pada karbon untuk mengetahui umur fosil. Kenapa karbon yang jadi tolak ukur? Soalnya gini, karbon sendiri punya 15 isotop, mulai dari C-8 sampe C-22. Kebanyakan dari isotop karbon ini sangat nggak stabil, alias waktu paruhnya cepet banget. Tapi, ada satu isotop yang lumayan panjang waktu paruhnya, yaitu C-14 dengan waktu paruh 5.730 tahun. C-14 ini terbentuk di atmosfer, dari N-14 yang bereaksi dengan cosmic ray atau radiasi dari luar tata surya.
Sementara itu, fosil yang jadi sampel kita biasanya berupa makhluk organik pada masa lampau, entah itu tanaman atau hewan. Tanaman menggunakan CO2 ini untuk proses fotosintesis, sehingga C-14 tadi masuk ke tanaman, dan juga ke hewan yang memakan tanaman, lalu hewan karnivora yang makan hewan herbivora. Karena semua makhluk hidup berhubungan langsung dengan atmosfer dalam siklus karbon, kadar C-14 di tubuh makhluk hidup akan hampir sama dengan yang di atmosfer, yaitu 10-12. Tapi, waktu makhluk itu mati, dia langsung terputus dari siklus karbon dengan atmosfer. Dari moment inilah kita bisa menghitung waktu yang dilewati fosil tersebut setelah mati berdasarkan perbandingan waktu paruh dari kadar karbon C-14 dengan kadar C-14 yang ada di atmosfer saat ini.
Ketika makhluk hidup mati, tanaman ngga berfotosintesis lagi, yang herbivor ngga makan tanaman berisi C-14 lagi, yang karnivor ngga makan hewan berisi C-14 lagi. Nah, C-14 yang tersisa di sisa tanaman atau hewan tersebut bakal mulai menghilang karena peluruhan tadi, dan kadar C-14 di sisa tersebut mulai berkurang. Konsep ini sebenernya lo pelajari di Fisika Radioaktif (kelas 12). Lo bisa lihat video di bawah ini untuk penurunan rumus waktu paruh ini:
Nah, seperti yang udah dijelasin di video di atas, berarti umur fosil bisa kita hitung dengan persamaan berikut ini:
t = T \times ^2\log{\frac{N_0}{N_{(t)}}}
  • t = waktu yang udah lewat setelah organisme ini mati
  • T = waktu paruh C-14, alias 5.730 tahun
  • N0 = kadar C-14 atmosfer sekarang
  • N(t) = kadar C-14 pada sampel
Kalau misalnya kadar C-14 atmosfer sekarang itu 10-12, dan ada sampel fosil pohon yang kadar C-14 nya tinggal 10-14, umurnya berarti:
\begin{array}{l c l}�t & = & T \times ^2\log{\frac{N_0}{N_{(t)}}} \\�& = & 5.730 \times ^2\log{\frac{10^{-12}}{10^{-14}}} \\�& = & 5.730 \times 6.644 \\ & ' & �\\ & = & 38.070 \\\end{array}
Dari perhitungan di atas kita bisa mengambil kesimpulan bahwa sampel fosil pohon tersebut berumur 38.070 tahun sebelum sekarang atau tahun 36.055 sebelum Masehi! Nah, sekarang lo ngerti kan kenapa para ilmuwan berani ngomong bahwa fosil A umurnya 2.000 tahun, fosil B umurnya 10.000 tahun, fosil C umurnya 30.000 tahun? yang jelas sih para ilmuwan ini gak cuma asal-asalan main tebak-tebakan yah. Ada metode yang konkrit, ada tolak ukur yang jelas, dan ada indikator yang cukup presisi untuk mendapatkan kesimpulan yang seakurat mungkin!
Untuk metode ini sebetulnya tidak selalu berpatokan pada karbon, ada banyak bahan kimia lain yang menjadi indikator karena unsur C-14 ini memiliki 'keterbatasan' tersendiri yaitu batas umur sampel fosil dan perubahan kadar C-14 di atmosfer yang kerap berubah karena ulah manusia. Pertama, umur fosil yang sudah amat sangat tua, menyebabkan kadar C-14 nya menjadi sangat kecil (makin banyak waktu yang dilewatin untuk meluruh), sehingga ada batasan umur fosil yang bisa dianalisa dengan memakai metode carbon dating ini. Biasanya, batas itu adalah 50.000 tahun, yang artinya fosil yang lebih tua dari 50.000 tahun akan kurang akurat kalau dianalisa pake carbon dating ini. Terkecuali dalam beberapa kasus khusus dimana sample yang ditemukan sangat istimewa kondisinya.
Kedua, kadar C-14 di atmosfer kadang berubah secara drastis dikarenakan pembakaran bahan bakar fosil (yang ngga ada C-14nya) yang mengurangi kadar C-14 di atmosfer, dan sebaliknya tes nuklir yang dilakukan beberapa negara bikin kadar C-14 atmosfer naik dua kali lipat antara 1950 sampai 1963. Maka dari itu, kadar C-14 atmosfir tahun 1950 selalu jadi patokan kadar C-14 ‘sekarang’, dan angkanya selalu jadi referensi dalam penghitungan.
Nah, terus gimana ceritanya untuk fosil yang lebih tua dari 50.000 tahun? Untuk specimen fosil yang lebih tua dari 50.000 tahun, para peneliti menggunakan jenis unsur radioaktif lain yang biasa dipake untuk mengukur umur fosil yang sangat tua, contohnya K-40 yang meluruh jadi Ar-40 dengan paruh waktu 1,25 milyar tahun. Karena paruh waktunya yang puanjang banget ini, biasanya metode K-Ar dating dipakai untuk batu dan mineral yang usia absolutnya antara 200.000 sampai 5.000.000 tahun. Sementara itu untuk specimen yang berumur di atas 5 juta tahun seperti fosil dinosaurus yang berumur > 65 juta tahun, digunakan metode fission track dating yang menganalisa kandungan uranium di mineral lapisan (strata) tanah tempat fosil tsb ditemukan.

2. Metode Stratigrafi

Stratigrafi ini cabang dalam geologi yang meneliti lapisan bumi, tepatnya lapisan batuan di lapisan terluar bumi alias kerak, dan terbentuknya lapisan-lapisan itu. Bidang ini pertama diteliti mendalam sama Nicolas Steno tahun 1669, yang bikin teori dasar agar para ilmuwan bisa menganalisa umur fosil berdasarkan letaknya di lapisan tanah yang berbeda. Nah, masing-masing lapisan itu disebut stratum, kalo banyak disebut strata. Coba deh liat contoh strata tanah di bawah:
stratigrafi2
Setiap lapisan atau stratum ini terbentuk secara natural dan tebelnya bisa beberapa mili doang sampe setebel satu kilometer. Setiap lapisan ini represents satu pembentukan endapan tertentu yang kita bisa cari tau dari isi lapisan itu. Lapisan bisa terbentuk dari endapan sungai, lava letusan gunung berapi, rawa, pasir pantai, dan lain-lain.
Nah, pada prinsipnya ilmu stratigrafi ini memungkinkan para ilmuwan untuk memperkirakan waktu umur fosil dari lokasi lapisan tanah tempat fosil tersebut ditemukan. Di artikel ini, gue mau bahas 5 prinsip dasar dalam stratigrafi yang membantu arkeolog, paleontolog, dan sejarahwan untuk tau dari era kapan suatu fosil itu berasal.

1. Law of Superposition

Prinsip pertama dari metode stratigrafi adalah: makin rendah lapisan tanah tempat lokasi fosil ditemukan, berarti makin tua umurnya. Mungkin ini kedengerannya simpel banget, tapi emang pada dasarnya kalau keadaannya ngga diusik sesuatu, lapisan tanah yang di bawah pasti tertimbun oleh lapisan di atasnya. Terus menerus begitu hingga ribuan tahun dan membentuk strata atau lapisan tanah yang berlapis. Prinsip ini simpel banget untuk dipake kalo kita mau membandingkan apakah fosil A lebih tua apa lebih muda dari fosil B.
Asumsinya, kalo bangkai hewan atau sisa tanaman mati kan kemungkinan besar diem aja di permukaan tanah, dan seiring dengan waktu lapisan tanah makin tertutupi oleh debu, tanah, air hujan, lapisan tanah yang terbawa aingin karena letusan gunuh berapi, dlsb. Pengecualian juga terjadi kalo ada aktivitas manusia atau manusia purba yang membuat struktur atau bangunan tertentu yang perlu menggali tanah. Kalo ada, bisa dianalisa pake yang namanya Harris Matrix. Sedikit banyak Matrix ini pake prinsip nomor 4 yang akan gue bahas di bawah.

2. Principle of Original Horizontality

Prinsip ini juga simpel idenya. Intinya, semua endapan yang bikin lapisan itu semua akan buat lapisan yang secara umum horizontal alias rata. Walaupun awalnya tanah itu ngga rata, karena ada gravitasi, erosi akan selalu nyebarin tanah supaya jadi rata. Tapi kenapa ada tanah yang naik turun kaya bukit dan jurang tanpa buatan manusia? Sebabnya adalah gaya yang lebih besar yang ada di lapisan yang lebih rendah, serta pergerakan di kerak bumi, alias teori plate tectonics. Pergerakan inilah yang bikin adanya lapisan yang ngga horizontal karena adanya force yang bikin tanah di daerah tertentu naik atau turun. Pengecualian ada di lapisan tertentu kaya pasir, yang bisa membentuk lapisan yang miring-miring.

3. Principle of Lateral Continuity

Prinsip ini juga simpel. Intinya, semua endapan itu nyebar ke semua arah. Kalau ada lapisan tanah yang mirip tapi terpisah sama sesuatu, bisa diasumsi bahwa dulunya mereka nyambung. Kira-kira gambarnya kaya gini:
stratigrafi 1

4. Principle of Cross-cutting Relationships

Prinsip ini mengatakan kalo ada sesuatu yang bikin potongan di satu lapisan atau lebih, potongan itu lebih muda atau terjadi belakangan ketimbang lapisan yang terpotong. Misalnya ya, suatu hari kamu nemuin LEGO yang retak kaya gini:
stratigrafi 2
Kalian bisa simpulin bahwa kejadian retaknya itu (karena kebentur atau sesuatu yang lain) terjadi setelah LEGO itu disambung, karena hampir ngga mungkin bikin dua retakan di biji LEGO yang terpisah yang pas ditempel jadi nyambung kan? Pasti tadinya dibikin dulu kaya gini:
Baru deh somehow jadi retak. Prinsip yang sama berlaku di lapisan tanah, kalau ada potongan yang nembus lapisan tertentu, potongan itu terjadi setelah lapisan itu ada. Kuis kecil nih, liat deh gambar di bawah ini:
stratigrafi 3
Pake prinsip-prinsip yang udah kita bahas, bisa ngga kalian tentuin urutan lapisan A sampe K, dari paling tua sampe paling muda?

5. Principle of Faunal Succession

Prinsip ini berhubungan sama makhluk hidup yang berkeliaran waktu lapisan tanah lagi terbentuk nih. Karena naturalnya bangkai tanaman atau hewan itu cuma tergeletak begitu aja di tanah, dia ikut masuk ke lapisan tanah yang lagi terbentuk saat dia mati. Dan karena umur fosil dari makhluk hidup A dan B yang hidup di jaman yang berbeda pasti bakal ditemukan di lapisan yang beda juga. Seperti prinsip nomer 1 tadi, makhluk hidup yang hidup di masa lebih deket ke sekarang fosilnya bakal ditemukan lebih deket ke atas (lebih muda).
Di sini, konteks dan penjelasannya sangat berkaitan dengan ilmu biologi dan teori evolusi, sebagai contoh: para ilmuwan sekarang bisa mengambil kesimpulan bahwa burung (aves) yang sekarang memiliki sayap dan bisa terbang adalah hasil evolusi dari makhluk hidup sebelumnya yang belum bisa terbang, which is dinosaurus. Seiring waktu berlalu, fungsi sayap itu terbentuk secara sederhana, hingga menjadi semakin kompleks dan akhirnya bisa digunakan untuk terbang. Para ilmuwan mengambil kesimpulan ini dari serangkaian fosil menunjukkan proses evolusi burung dari dinosaurus. Di fosil yang ada di lapisan lebih bawah, ditemuin yang ada bulu kecil dan simpel. Lalu, yang lapisannya makin ke atas (makin muda) bulu yang ditemukan makin muda makin besar dan memungkinkan organisme berbulu itu terbang.
fossil nenek moyang aves
Selain dua metode radiometri dan stratigrafi yang udah gue bahas, ada beberapa metode lain misalnya dendrokronologi (penghitungan lingkar pohon), dan epigrafi (penelitian arti peninggalan tertulis dari segi bahasa), yang dipake selain untuk mengetahui umur suatu sampel, juga untuk crosscheck metode-metode lain. Biasanya untuk mencari tau umur suatu sample, dipake beberapa metode yang relevan lalu dibandingin hasilnya, dan harus konsisten supaya para ilmuwan mendapatkan kesimpulan yang akurat dan tidak bias oleh kesalahan perhitungan yang cuma fokus pada 1-2 metode.

Selasa, 20 Desember 2016

pengalaman bekerja di pt sindee budi sentosa tambun

ini lanjutan buat kalian yg udah baca page sebelumnya ,hay para farmasi dan lainnya

hari pertama gue masuk dan gue jadi bagian dari perusahaan ini sebagai inspector effervecent Quality assurance nah jadi gue bakal kasih tau dulu nih detailnya

Beda QA & QC nah jadi ini bedanya buat kita yg farmasi biasanya akan masuk QA  disebuah perusahaan farmasi soalnya tugas keduanya itu beda
QA: memastikan bahwa semua proses produksi bahan baku dan alat alat atau mesin sesuai dengan standar atau cpob
QC ; mengecek atau mengukur dan melalukan serangkaia analisa untuk memastikan bahan baku sesuian denganstandart
jadi dengan kata lain QA itu mastiin QC yg ngukur gitu singkatnya wkwkwk

dan gue QA ipc effervecent buat lu anak farmasi yg gatau apa itu effervecent lu gausah kerja lu sekolah lagi aja wkwkw Tablet effervescent adalah sebagai bentuk sediaan yang menghasilkan gelembung gas sebagai hasil reaksi kimia dalam larutan. Gas yang dihasilkan umumnya adalah karbondioksida (CO2)

tapi gue yg serbuk nah produk nya itu lasegar larutan penyegar sama enao
 Hasil gambar untuk lasegar serbukHasil gambar untuk larutan penyegar serbuk


ya begitu contohya . tugas gue melakukan cek kebocoran sachet , cek keseragaman bobot dan cek batch dan ub tau exp date. kita yg mengendalikan disana semua harus berdasar persetujuan kita . jadi tanggung jawab kita lumayan besar disana . gue dikontrak selama setahun dengan salary umr dan tunjangan bla bla wkwk sekian dulu

pengalaman tes dan bekerja di PT.SINDE BUDI SENTOSA

hay hay semua gue gatau kalo gue punya blog dulu wkwkw so ya niat hati mau buat blog baru eh tapi udah punya wkwk oke duh jadi nyeloteh gue wkwkw ,so lanjut aja

oh ya gue baru aja abis kontrak dari pt sinde ini bagi yg belum tau ini pabrik ini tuh pabrik minuman penyegar cap badak 

gue bakal lansung mulai dari saat gue tahap interview ini ditujukan buat temen temen yg kali aja berminat kerja disana ini alamatnya
PT. Sinde Budi Sentosa
Jl. Raya Diponegoro No.35 · +62 21 8801040

pt ini punya 5 plant yg berjejer sepanjang jalan tambun itu 
kalau mau kerja disini bisa aplly ke pt nya langsung aja 

gue bekerja sebagai QA atau QC disana nah diawal nya tuh gue tau dari sekolah gue bahwa sinde lagi buka lowongan tuh nah gue langsung kirim aja ga lama langsung ada panggilan .

tahap tahapnya 
-tes matematika sederhana
 ini sumpeh sederhana cuma sebagai syarat aja kayaknya soalnya merekaliat nya tuh dari interpersonal diri kita aja gue tes ber 20 setelah tes mtk diumumin bahwa yg lolos ada 5 tuh nah lanjut tes wawancara cuy iya wawancara cepet and simple bgt kan.
- tes wawancara
nah kita tes wawacara ditanya ya biasa lan keadaan keluarga dsb and i have trick jadi kalo lu ditanya tentang masalah demo , lu bilang aja yg baik baik seakan lu gasuka demo soalnya beberapa perusahaan suka sensitif masalah ini so kepp careful,
oya wawancara ini pertama ama HRD pa nino namanya terus sama user atau atasan kita nantinya gitu 
-tes kesehatan
gile gapercaya kan lu kalo langsuung hari itu juga medical nya wkwk ya itu nyatanta kita langsung sehari itu buat keseluruhan tesnya jadi no php gitu
 
gue tes dari jam 7- 15 sore nah tahap nya santai dan asik ga ada krapelinkrapelinnan wkwkw gaada gambar gambaran wkwkwk
 
setelah itu nunggu seminggu untuk kita nunggu hasil tesnya dah walla alhamdulilah gue masuk dan resmi jadi bagian dari perusahaan ini........
 
pengalaman kerja disini page selanjutnya kaka