Tablet adalah bentuk sediaan padat mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan pengisi.
Metode Pembuatan Tablet dapat dibagi menjadi 3 antara lain :
1. Granulasi Basah
Pembuatan tablet dengan metode Granulasi Basah digunakan untuk membuat
tablet dengan zat aktif yang mempunyai karaketerisik tidak kompaktibel,
mempunyai waktu alir (fluiditas) yang jelek, tahan panas, dan tahan
lembab/pembasahan. Secara umum tahapan proses pembuatan tablet dengan
metode granulasi basah dapat dilihat pada gambar 1.
Gambar 1. Skema pembuatan tablet dengan metode granulasi basah
Kekurangan pembuatan tablet dengan metode granulasi basah :
1.1. Alat yang digunakan terlalu banyak, karena terdapat banyak tahapan proses
1.2. Ruangan lebih luas untuk menampung alat yang digunakan
1.3. Prosedur lebih komples
1.4. Energi yang digunakan lebih besar karena jumlah alat yang digunakan lebih banyak
1.5. Pekerja/operator jumlahnya lebih banyak untuk mengoperasikan alat.
Kelebihan pembuatan tablet dengan metode granulasi basah :
1.1. Metode granulasi basah dapat meningkatkan fluiditas (sifat alir) dan kompaktibilitas.
1.2. Dapat digunakan untuk membuat tablet dengan dosis obat besar dan memiliki karakteristik zat
aktif yang tidak kompaktibel
1.3. Dapat mencegah terjadinya segregasi
1.4. Memperbaiki disolusi zat aktif yang hidrofob
Parameter kritis pada proses granulasi basah :
1.1. Jumlah bahan pengikat
Jumlah bahan pengikat yang ditambahkan sangat mempengaruhi konsistensi
granul basah yang terbentuk. Jika jumlah bahan pengikat yang ditambahkan
terlalu banyak dapat menyebabkan over wetting (granul terlalu basah).
Granul yang terlalu basah menyebabkan granul susah diayak dan butuh
pengeringan yang lebih lama untuk memperoleh granul kering dengan kadar
air yang diinginkan. Pada tahap pembasahan granulasi basah (zat aktif +
Zat pengisi + Zat pengawet + Larutan pengikat) terjadi proses sesuai
pada gambar 1a.
Gambar 1.b. proses yang terjadi pada tahap pembasahan granulasi basah
Untuk mengetahui jumlah bahan pengikat yang digunakan dalam proses
granulasi basah antara lain : snow ball consistency, banana breaking
test, soil humidity test.
1.2. Waktu pencampuran
Waktu pencampuran sangat mempengaruhi kesergaman zat aktif yang
terkandung dalam granul basah atau pun pada granul kering. Dengan waktu
pencampuran yang tepat diharapkan terjadi pencampuran yang efektif
antara zat aktif dengan zat tambahan lainnya sehingga terbentuk campuran
yang homogen dan memiliki sifat alir yang baik
1.3. Lama Pengeringan
Waktu perngeringan berhubungan erat dengan kadar air yang terkandung
dalam kadar air. Dengan Kadar air yang tepat maka akan mempermudah pada
proses pengempaan ataupun pencetakan. Jika granul yang dihasilkan
terlalu basah dapat menyebabkan lengketnya granul pada proses
pencetakan. Jika granul yang dihasilkan terlalu kering dapat menyebabkan
capping pada proses pencetakan.
2. Granulasi Kering
Pembuatan tablet dengan metode Granulasi Kering digunakan untuk membuat
tablet dengan zat aktif yang mempunyai karaketerisik tidak kompaktibel,
mempunyai waktu alir (fluiditas) yang jelek, tidak tahan panas, dan
tidak tahan lembab/pembasahan. Secara umum tahapan proses pembuatan
tablet dengan metode granulasi kering dapat dilihat pada gambar 2.
Gambar 2. Skema pembuatan tablet dengan metode granulasi kering
Pembuatan tablet dengan metode granulasi kering harus menggunakan zat
aktif dan atau zat tambahan yang mempunyai reworking potensial yang
baik. Reworking potensial yang dimaksud disini adalah kemampuan suatau
bahan untuk mempertahankan kualitasnya walaupun mengalami pengempaan
berkali-kali.
3. Kempa Langsung
Pembuatan tablet dengan metode Kempa Langsung digunakan untuk membuat
tablet dengan zat aktif yang mempunyai karaketerisik kompaktibel,
mempunyai waktu alir (fluiditas) yang baik, . Secara umum tahapan proses
pembuatan tablet dengan metode kempa langsung dapat dilihat pada gambar
3.
Gambar 3. Skema pembuatan tablet dengan metode kempa langsung
Granulasi
Granulasi
Proses
pembuatan granul merupakan tahap awal yang paling penting pada proses pembuatan
tablet. Pembuatan granul atau granulasi merupakan proses pembesaran ukuran
serbuk dimana suatu campuran serbuk yang mempunyai daya kohesi kecil diubah
menjadi ukuran partikel yang lebih besar dengan perubahan sifat sebagai berikut
:
Meningkatkan
ukuran partikel
Memperbaiki
sifat alir dengan penyebaran dosis yang merata
Menghasilkan
serbuk partikel yang lebih uniform, ukuran spasifik yang sama, danbentuk yang hamper sama
Mencegah
pemisahan dari bahan-bahan selama proses pencetakan
Memperbaiki
karakteristik kompresi dari campuran
Granulasi dimulai dengan pencampuran
bahan aktif yang diperlukan sehingga dicapai satu bentuk (uniform)
masing-masing bahan aktif melalui campuran. Setelah granulasi, granul- granul
akan dibungkus jika digunakan sebagai sediaan obat atau dicampur dengan bahan
penambah lainnya sebelum pencetakan tablet atau dimasukkan ke dalam kapsul.
Keuntungan granulasi,
antara lain:
Serbuk
dalam bentuk granul akan memperbaiki tampilan obat
Granul akan
membentuk campuran serbuk yang mempunyai distribusi bahan akftif dan
eksipien yang homogen.
Akan
menurunkan volume ruang, sehingga memudahkan proses penyimpanan dan
pengeringan.
Granul yang baik adalah
partikel-partikel yang berbentuk bundar atau sferis atau mendekati bundar serta
mempunyai distribusi ukuran partikel yang mengikuti kurva distribusi normal
dengan presentasi ukuran yang kecil dengan ukuran yang besar.
Proses pembuatan tablet dibagi menjadi
tiga cara, yaitu:
Cetak
Langsung
Bahan
obat dengan atau tanpa bahan tambahan langsung dicetak.
Syarat:
-Punya sifat alir yang baik
-Daya ikat kuat dan mudah dimampatkan
-Stabil secara fisikokimia
-Memiliki Bobot Jenis yang tidak terlalu
berbeda
-Dapat dicampurkan
Cara
ini merupakan cara yang paling sederhana, sebab tidak memerlukan peralatan
untuk proses granulasi ataupun prosedur pengeringan, seperti cara-cara lainnya
bahkan seringkali tidak memerlukan tambahan bahan-bahan pembantu tablet
lainnya, sebab zat khasiat dapat dicetak langsung menjadi tablet.
Granulasi
Kering (slugging)
Disebut
juga cara pencetakan ganda, oleh karena di dalam proses pembuatannya tidak
memerlukan air dan pencetakan dilakukan berulang-ulang. Cara ini berlaku untuk
zat khasiatyang tidak stabil dengan
adanya air atau panas dan sifatnya hidrofil sebab sifat yang demikian sangat
menolong sewaktu pencetakan berlangsung, bila sifat ini kurang dipenuhi,
disarankan untuk mencampurkannya dengan bahan pengisi yang memiliki sifat
kohesif yang lebih besar.
Cara
:
Setelah
proses pencampuran bahan aktif dengan air atau dengan bahan pengisi lainnya,
lalu dimasukkan ke dalam hopper dan dicetak dengan stempel dan mariks berukuran
2,18-2,5 cm atau lebih besar 1,875-3,4375 cm. Dengan cara ini pengisian
campuran serbuk lebih mudah dan dapat diberikan tekanan besar pada pencetakan
dan inilah yang dikenal dengan ‘slug’.
Granulasi
slug, dimana campuran bahantersebut
lalu dipaksakan melalui ayakan dengan ukuran yang sesuai sehingga terbentuk
granul. Lalu dilakukan pencampuran granul dengan lubrikan yang sesuai (proses
lubrikasi). Setelah itu dilakukan pencetakan, dimana campuran tersebut dicetak
menjadi tablet dengan menggunakan stempel dan matriks yang sesuai dengan bobot
tablet yang diinginkan.
Granulsi
Basah
Cara
ini merupakan cara yang paling umum sebab hamper semua jenis zat khasiat dapat
diproses secara granulasi basah. Granulasi basah di dalam proses pembuatan
granulnya mempergunakan larutan bahan pengikat dalam air seperti mucilage CMC,
gom arab, gelatin, pasta pati, dll. Tablet yang dihasilkan secara granulasi
basah umumnya lebih kompak dan lebih keras dibandingkan secara cetak langsung.
Cara
:
Setelah
digunakan penimbangan bahan dan pencampuran bahan-bahan yang digunakan,
dilakukan granulasi yaitu campuran serbuk dibasahi dengan larutan bahan
pengikat sampai diperoleh distribusi bahan pengikat yang homogen, yang ditandai
dengan campuran dapat dikepal seperti salju, yang bila kepalan ditekan akan
pecah dalam distribusi ukuran partikel granul yang merata.Lalu adonan tersebut
diayak sehingga diperoleh granul dengan ukuran merata dan kompak (disebut
Pengayakan massa basah).
Granul
kemudian dikeringkan di dalam lemari pengering dengan suhu pengeringan 50 – 60 oC.
Lalu dilakukan pencampuran granul dengan lubrikan yang sesuai (proses
lubrikasi). Setelah itu dilakukan pencetakan, dimana campuran tersebut dicetak
menjadi tablet dengan menggunakan stempel dan matriks yang sesuai dengan bobot
tablet yang diinginkan.
Granulasi
Dasar
Tahap
pengerjaan sama seperti granulasi basah pada umumnya hanya pada cara granulasi
dasar, zat khasiat tidak dicampurkan bersama bahan pengisi dan bahan penghancur
dalam tetapi ditambahkan sebagai ‘fines’ kedalam granul kering bersama dengan
bahan penghancur luar dan lubrikan.
HPLC
(High Performance Liquid Chromatography) atau biasa juga disebut dengan
Kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT) dikembangkan pada akhir tahun
1960-an dan awal tahun 1970-an. Saat ini, HPLC merupakan teknik
pemisahan yang diterima secara luas untuk analisis bahan obat, baik
dalam bulk atau dalam sediaan farmasetik.
SISTEM PERALATAN HPLC
Instrumentasi HPLC
pada dasarnya terdiri atas: wadah fase gerak, pompa, alat untuk
memasukkan sampel (tempat injeksi), kolom, detektor, wadah penampung
buangan fase gerak, dan suatu komputer atau integrator atau perekam. Diagram skematik sistem kromatografi cair seperti ini :
1. Wadah Fase gerak dan Fase gerak
Wadah
fase gerak harus bersih dan lembam (inert). Wadah pelarut kosong ataupun
labu laboratorium dapat digunakan sebagai wadah fase gerak. Wadah ini
biasanya dapat menampung fase gerak antara 1 sampai 2 liter pelarut(1). Fase
gerak atau eluen biasanya terdiri atas campuran pelarut yang dapat
bercampur yang secara keseluruhan berperan dalam daya elusi dan
resolusi. Daya elusi dan resolusi ini ditentukan oleh polaritas
keseluruhan pelarut, polaritas fase diam, dan sifat komponen-komponen
sampel. Untuk fase normal (fase diam lebih polar daripada fase gerak),
kemampuan elusi meningkat dengan meningkatnya polaritas pelarut.
Sementara untuk fase terbalik (fase diam kurang polar daripada fase
gerak), kemampuan elusi menurun dengan meningkatnya polaritas pelarut.
Fase
gerak sebelum digunakan harus disaring terlebih dahulu untuk menghindari
partikel-partikel kecil ini. Selain itu, adanya gas dalam fase gerak
juga harus dihilangkan, sebab adanya gas akan berkumpul dengan komponen
lain terutama di pompa dan detektor sehingga akan mengacaukan analisis.
Elusi
dapat dilakukan dengan cara isokratik (komposisi fase gerak tetap selama
elusi) atau dengan cara bergradien (komposisi fase gerak berubah-ubah
selama elusi) yang analog dengan pemrograman suhu pada kromatografi gas.
Elusi bergradien digunakan untuk meningkatkan resolusi campuran yang
kompleks terutama jika sampel mempunyai kisaran polaritas yang luas.4) Fase
gerak yang paling sering digunakan untuk pemisahan dengan fase terbalik
adalah campuran larutan bufer dengan metanol atau campuran air dengan
asetonitril. Untuk pemisahan dengan fase normal, fase gerak yang paling
sering digunakan adalah campuran pelarut-pelarut hidrokarbon dengan
pelarut yang terklorisasi atau menggunakan pelarut-pelarut jenis
alkohol. Pemisahan dengan fase normal ini kurang umum dibanding dengan
fase terbalik.2)
2. Pompa Pompa
yang cocok digunakan untuk HPLC adalah pompa yang mempunyai syarat
sebagaimana syarat wadah pelarut yakni: pompa harus inert terhadap fase
gerak. Bahan yang umum dipakai untuk pompa adalah gelas, baja tahan
karat, Teflon, dan batu nilam. Pompa yang digunakan sebaiknya mampu
memberikan tekanan sampai 5000 psi dan mampu mengalirkan fase gerak
dengan kecepatan alir 3 mL/menit. Untuk tujuan preparatif, pompa yang
digunakan harus mampu mengalirkan fase gerak dengan kecepatan 20
mL/menit. Tujuan
penggunaan pompa atau sistem penghantaran fase gerak adalah untuk
menjamin proses penghantaran fase gerak berlangsung secara tepat,
reprodusibel, konstan, dan bebas dari gangguan. Ada 2 jenis pompa
dalam HPLC yaitu: pompa dengan tekanan konstan, dan pompa dengan aliran
fase gerak yang konstan. Tipe pompa dengan aliran fase gerak yang
konstan sejauh ini lebih umum dibandingkan dengan tipe pompa dengan
tekanan konstan.6)
3. Tempat penyuntikan sampel Sampel-sampel
cair dan larutan disuntikkan secara langsung ke dalam fase gerak yang
mengalir di bawah tekanan menuju kolom menggunakan alat penyuntik yang
terbuat dari tembaga tahan karat dan katup teflon yang dilengkapi dengan
keluk sampel (sample loop) internal atau eksternal.
Posisi pada saat memuat sampel Posisi pada saat menyuntik sampel
4. Kolom dan Fase diam
Ada 2
jenis kolom pada HPLC yaitu kolom konvensional dan kolom mikrobor. Kolom
merupakan bagian HPLC yang mana terdapat fase diam untuk berlangsungnya
proses pemisahan solut/analit.
Kolom mikrobor mempunyai 3 keuntungan yang utama dibanding dengan kolom konvensional, yakni:
Konsumsi
fase gerak kolom mikrobor hanya 80% atau lebih kecil dibanding dengan
kolom konvensional karena pada kolom mikrobor kecepatan alir fase gerak
lebih lambat (10 -100 μl/menit).
Adanya aliran fase gerak yang lebih lambat membuat kolom mikrobor lebih ideal jika digabung dengan spektrometer massa.
Sensitivitas
kolom mikrobor ditingkatkan karena solut lebih pekat, karenanya jenis
kolom ini sangat bermanfaat jika jumlah sampel terbatas misal sampel
klinis.
Meskipun
demikian, dalam prakteknya, kolom mikrobor ini tidak setahan kolom
konvensional dan kurang bermanfaat untuk analisis rutin.3] Kebanyakan
fase diam pada HPLC berupa silika yang dimodifikasi secara kimiawi,
silika yang tidak dimodifikasi, atau polimer-polimer stiren dan divinil
benzen. Permukaan silika adalah polar dan sedikit asam karena adanya
residu gugus silanol (Si-OH). Silika
dapat dimodifikasi secara kimiawi dengan menggunakan reagen-reagen
seperti klorosilan. Reagen-reagen ini akan bereaksi dengan gugus silanol
dan menggantinya dengan gugus-gugus fungsional yang lain.
Oktadesil silika (ODS atau C18)
merupakan fase diam yang paling banyak digunakan karena mampu
memisahkan senyawa-senyawa dengan kepolaran yang rendah, sedang, maupun
tinggi. Oktil atau rantai alkil yang lebih pendek lagi lebih sesuai
untuk solut yang polar. Silika-silika aminopropil dan sianopropil
(nitril) lebih cocok sebagai pengganti silika yang tidak dimodifikasi.
Silika yang tidak dimodifikasi akan memberikan waktu retensi yang
bervariasi disebabkan karena adanya kandungan air yang digunakan.
5. Detektor HPLC Detektor
pada HPLC dikelompokkan menjadi 2 golongan yaitu: detektor universal
(yang mampu mendeteksi zat secara umum, tidak bersifat spesifik, dan
tidak bersifat selektif) seperti detektor indeks bias dan detektor
spektrometri massa; dan golongan detektor yang spesifik yang hanya akan
mendeteksi analit secara spesifik dan selektif, seperti detektor UV-Vis,
detektor fluoresensi, dan elektrokimia.
Idealnya, suatu detektor harus mempunyai karakteristik sebagai berikut:
Mempunyai respon terhadap solut yang cepat dan reprodusibel.
Mempunyai sensitifitas yang tinggi, yakni mampu mendeteksi solut pada kadar yang sangat kecil.
Stabil dalam pengopersiannya.
Mempunyai sel volume yang kecil sehingga mampu meminimalkan pelebaran pita.
Signal yang dihasilkan berbanding lurus dengan konsentrasi solut pada kisaran yang luas (kisaran dinamis linier).
Tidak peka terhadap perubahan suhu dan kecepatan alir fase gerak.2)
Beberapa detektor yang paling sering digunakan pada HPLC dengan karakteristik detektor seperti berikut :
Detektor
Sensitifitas
(g/ml)
Kisaran
linier
Karakteristik
Absorbansi Uv-vis
Fotometer filter
Spektrofotometer
spektrometer photo-diode
array
5 x 10-10
5 x 10-10
> 2 x
10-10
104
105
105
Sensitivitas bagus,
paling sering digunakan, selektif terhadap gugus-gugus dan struktur-struktur
yang tidak jenuh.
Fluoresensi
10-12
104
Sensitifitas sangat
bagus, selektif, Tidak peka terhadap perubahan suhu dan kecepatan alir fase
gerak.
Indeks bias
5 x 10-7
104
Hampir bersifat
universal akan tetapi sensitivitasnya sedang. Sangat sensitif terhadap suhu,
dan tidak dapat digunakan pada elusi bergradien
Elektrokimia
Konduktimetri
Amperometri
10-8
10-12
104
105
Peka terhadap
perubahan suhu dan kecepatan alir fase gerak, tidak dapat digunakan pada
elusi bergradien. Hanya mendeteksi solut-solut ionik. Sensitifitas sangat
bagus, selektif tetapi timbul masalah dengan adanya kontaminasi elektroda.
JENIS HPLC Pemisahan dengan HPLC dapat dilakukan dengan fase normal (jika fase diamnya
lebih polar dibanding dengan fase geraknya) atau fase terbalik (jika
fase diamnya kurang non polar dibanding dengan fase geraknya).
Berdasarkan pada kedua pemisahan ini, sering kali HPLC dikelompokkan
menjadi HPLC fase normal dan HPLC fase terbalik. Selain
klasifikasi di atas, HPLC juga dapat dikelompokkan berdasarkan pada
sifat fase diam dan atau berdasarkan pada mekanisme sorpsi solut, dengan
jenis-jenis HPLC sebagai berikut: 1. Kromatografi Adsorbsi Prinsip
kromatografi adsorpsi telah diketahui sebagaimana dalam kromatografi
kolom dan kromatografi lapis tipis. Pemisahan kromatografi adsorbsi
biasanya menggunakan fase normal dengan menggunakan fase diam silika gel
dan alumina, meskipun demikian sekitar 90% kromatografi ini memakai
silika sebagai fase diamnya. Pada silika dan alumina terdapat gugus
hidroksi yang akan berinteraksi dengan solut. Gugus silanol pada silika
mempunyai reaktifitas yang berbeda, karenanya solut dapat terikat secara
kuat sehingga dapat menyebabkan puncak yang berekor.3)
2. Kromatografi fase terikat Kebanyakan
fase diam kromatografi ini adalah silika yang dimodifikasi secara
kimiawi atau fase terikat. Sejauh ini yang digunakan untuk memodifikasi
silika adalah hidrokarbon-hidrokarbon non-polar seperti dengan
oktadesilsilana, oktasilana, atau dengan fenil. Fase diam yang paling
populer digunakan adalah oktadesilsilan (ODS atau C18) dan kebanyakan
pemisahannya adalah fase terbalik. Sebagai
fase gerak adalah campuran metanol atau asetonitril dengan air atau
dengan larutan bufer. Untuk solut yang bersifat asam lemah atau basa
lemah, peranan pH sangat krusial karena kalau pH fase gerak tidak diatur
maka solut akan mengalami ionisasi atau protonasi. Terbentuknya spesies
yang terionisasi ini menyebabkan ikatannya dengan fase diam menjadi
lebih lemah dibanding jika solut dalam bentuk spesies yang tidak
terionisasi karenanya spesies yang mengalami ionisasi akan terelusi
lebih cepat.3)
3. Kromatografi penukar ion KCKT
penukar ion menggunakan fase diam yang dapat menukar kation atau anion
dengan suatu fase gerak. Ada banyak penukar ion yang beredar di pasaran,
meskipun demikian yang paling luas penggunaannya adalah polistiren
resin. Kebanyakan
pemisahan kromatografi ion dilakukan dengan menggunakan media air
karena sifat ionisasinya. Dalam beberapa hal digunakan pelarut campuran
misalnya air-alkohol dan juga pelarut organik. Kromatografi penukar ion
dengan fase gerak air, retensi puncak dipengaruhi oleh kadar garam total
atau kekuatan ionik serta oleh pH fase gerak. Kenaikan kadar garam
dalam fase gerak menurunkan retensi solut. Hal ini disebabkan oleh
penurunan kemampuan ion sampel bersaing dengan ion fase gerak untuk
gugus penukar ion pada resin.
4. Kromatografi Pasangan ion Kromatografi
pasangan ion juga dapat digunakan untuk pemisahan sampel-sampel ionik
dan mengatasi masalah-masalah yang melekat pada metode penukaran ion.
Sampel ionik ditutup dengan ion yang mempunyai muatan yang berlawanan.2)
5. Kromatografi Eksklusi Ukuran Kromatografi
ini disebut juga dengan kromatografi permiasi gel dan dapat digunakan
untuk memisahkan atau menganalisis senyawa dengan berat molekul >
2000 dalton. Fase
diam yang digunakan dapat berupa silika atau polimer yang bersifat
porus sehingga solut dapat melewati porus (lewat diantara partikel),
atau berdifusi lewat fase diam. Molekul solut yang mempunyai BM yang
jauh lebih besar, akan terelusi terlebih dahulu, kemudian
molekul-molekul yang ukuran medium, dan terakhir adalah molekul yang
jauh lebih kecil. Hal ini disebabkan solut dengan BM yang besar tidak
melewati porus, akan tetapi lewat diantara partikel fase diam. Dengan
demikian, dalam pemisahan dengan eksklusi ukuran ini tidak terjadi
interaksi kimia antara solut dan fase diam seperti tipe kromatografi
yang lain.
6. Kromatografi Afinitas Dalam
kasus ini, pemisahan terjadi karena interaksi-interaksi biokimiawi yang
sangat spesifik. Fase diam mengandung gugus-gugus molekul yang hanya
dapat menyerap sampel jika ada kondisi-kondisi yang terkait dengan
muatan dan sterik tertentu pada sampel yang sesuai (sebagaimana dalam
interaksi antara antigen dan antibodi). Kromatografi jenis ini dapat digunakan untuk mengisolasi protein (enzim) dari campuran yang sangat kompleks.2)
DERIVATISASI PADA HPLC Derivatisasi
melibatkan suatu reaksi kimia antara suatu analit dengan suatu reagen
untuk mengubah sifat fisika-kimia suatu analit. Tujuan utama penggunaan
derivatisasi pada HPLC adalah untuk:
Meningkatkan deteksi
Merubah struktur molekul atau polaritas analit sehingga akan menghasilkan puncak kromatografi yang lebih baik
Merubah matriks sehingga diperoleh pemisahan yang lebih baik
Menstabilkan analit yang sensitif.5)
Detektor
yang paling banyak digunakan dalam HPLC adalah detektor UV-Vis sehingga
banyak metode yang dikembangkan untuk memasang atau menambahkan gugus
kromofor yang akan menyerap cahaya pada panjang gelombang tertentu. Di
samping itu, juga dikembangkan suatu metode untuk menghasilkan fluorofor
(senyawa yang mamapu berfluoresensi) sehingga dapat dideteksi dengan
fluorometri.7) Suatu
reaksi derivatisasi harus mempunyai syarat-syarat sebagai berikut,
yakni: produk yang dihasilkan harus mampu menyerap baik sinar
ultraviolet atau sinar tampak atau dapat membentuk senyawa berfluoresen
sehingga dapat dideteksi dengan spektrofluorometri; proses derivatisasi
harus cepat dan menghasilkan produk yang sebesar mungkin (100 %); produk
hasil derivatisasi harus stabil selama proses derivatisasi dan deteksi;
serta sisa pereaksi untuk derivatisasi harus tidakmenganggu pemisahan
kromatografi.7)
Berbagai macam bahan penderivat telah tersedia antara lain :
Derivatisasi
ini dapat dilakukan sebelum analit memasuki kolom (pre-column
derivatization) atau setelah analit keluar dari kolom (post-column
derivatization).
Referensi:
Settle,
F (Editor), 1997, Handbook of Instrumental Techniques for Analytical
Chemistry, Prentice Hall PTR, New Jersey, USA.
Meyer,
F.R., 2004, Practical High-Performance Liquid Chromatography,
4th Ed., John Wiley & Sons, New York.
Kealey,
D and Haines, P.J., 2002, Instant Notes: Analytical Chemistry, BIOS
Scientific Publishers Limited, New York.
Snyder,
L. R., Kirkland, S.J., and Glajch,
J.L., 1997, Practical HPLC Method Development, John Wiley &
Son, New York.
Munson,
J.W., 1981, Phrarmaceutical
Analysis: Modern Methods, Part A and B, diterjemahkan oleh Harjana dan
Soemadi, Airlangga University Press, Surabaya.
Cserhati,
T. And Forgacs, E., 1999, Chromatography
in Food science and Technology, Technomic Publishing, Lancaster,
Basel.
Wadah dan sumbatnya dapat mempengaruhi
bahan yang disimpan di dalamnya baik secara kimia maupun fisika yang
dapat mengakibatkan perubahan khasiat, mutu atau kemurniannya hingga
tidak memenuhi syarat baku.
Ada tiga kategori kualitas wadah, yaitu:
Wadah tertutup baik,
harus melindungi isinya terhadap pemasukan bahan padat dari luar dan
mencegah kehilangan isi waktu pengurusan, pengangkutan, penyimpanan, dan
penjualan dalam kondisi normal.
Wadah tertutup rapat,
harus melindungi isinya terhadap masuknya bahan padat, lengas dari luar
dan mencegah kehilangan, pelapukan, pencairan, dan penguapan pada waktu
pengurusan, pengangkutan, penyimpanan dan penjualan dalam kondisi
normal.
Wadah tertutup kedap,
harus mencegah menembusnya udara atau gas pada waktu pengurusan,
pengangkutan, penyimpanan, dan penjualan dalam kondisi normal.
Wadah satuan tunggal, harus tertutup sehingga isinya tidak dapat dipindahkan tanpa merusak tutupnya. Wadah satuan tunggal untuk injeksi disebut wadah dosis tunggal.
Wadah dosis satuan, adalah wadah satuan tunggal untuk bahan yang digunakan bukan secara parenteral dalam dosis tunggal langsung dari wadah.
Wadah satuan ganda,
memungkinkan dapat diambil sebagian isinya tanpa ada perubahan potensi,
mutu, dan kemurnian zat dalam wadah. Wadah satuan ganda untuk injeksi
disebut wadah dosis ganda.
Wadah dan sumbatnya tidak boleh mempengaruhi bahan yang disimpan
didalamnya, baik secara kimia maupun secara fisika yang dapat
mengakibatkan perubahan kekuatan, mutu atau kemurniannya sehingga tidak
memenuhi persyaratan resmi.
Wadah tidak tembus cahaya
Wadah tidak tembus cahaya harus dapat melindungi isi dari pengaruh
cahaya, dibuat dari bahan khusus yang mempunyai sifat menahan cahaya.
Wadah yang bening dan tidak berwarna atau wadah yang tembus cahaya dapat
dibuat tidak tembus cahaya dengan dengan cara memberi pembungkus yang
buram.
PENYIMPANAN OBAT
Obat harus disimpan sehingga tercegah cemaran dan peruraian, terhindar dari pengaruh udara, kelembapan, panas, dan cahaya.
Obat yang mudah menguap atau terurai harus disimpan dalam wadah tertutup rapat.
Obat yang mudah menyerap lembab harus disimpan dalam wadah tertutup rapat berisi kapur tohor.
Obat yang menyerap CO2 harus disimpan dalam wadah dengan pertolongan kapur tohor atau zat lain yang cocok.
Keadaan kebasahan udara dinyatakan dengan
tekanan uap air relatif, yaitu perbandingan antara tekanan uap di udara
dengan tekanan uap maksimum pada temperatur tersebut. Tekanan uap
relatif ditentukan dengan higrometer.
Arti disimpan terlindung dari cahaya berarti disimpan dalam wadah inaktinik,
sedang disimpan sangat terlindung dari cahaya berarti disimpan
terlindung cahaya dan wadahnya masih harus dibungkus dengan kertas hitam
atau kertas lain tidak tembus cahaya.
Penyimpanan pada suhu kamar adalah disimpan pada suhu 15°C hingga 30°C
Penyimpanan di tempat sejuk adalah disimpan pada suhu 5°C hingga 15°C
Penyimpanan di tempat dingin adalah disimpan pada suhu 0°C hingga 5°C
Penyimpanan di tempat lewat dingin adalah disimpan pada suhu -15°C hingga 0°C
SUHU PENYIMPANAN
Dingin adalah suhu tidak lebih 8°C
Lemari pendingin suhunya antara 2°C sampai 8°C
Lemari pembeku suhunya antara -20°C sampai -10°C
Sejuk adalah suhu antara 8°C dan 15°C bila perlu disimpan dalam lemari pendingin
Suhu kamar adalah suhu antara 15°C sampai 30°C
Hangat adalah suhu antara 30°C sampai 40°C
Panas berlebih adalah suhu diatas 40°C
Sumber:
Anief, Moh. (2010). Ilmu Meracik Obat. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Sebagai orang yang berpendidikan, sedikit banyak kita telah menerima
warisan pengetahuan dari generasi sebelumnya. Dengan bersekolah,
dengerin cerita guru sejarah, baca buku, atau nonton film
dokumenter, kita yang hidup di abad 21 ini jadi bisa tahu tentang apa
yang terjadi di dunia ini dari mulai ratusan, ribuan, bahkan jutaan
tahun yang lalu. Tapi pernah gak sih lo berpikir... gimana sih caranya
rantai informasi itu tidak terputus?
Untuk kejadian yang masih 'baru' terjadi puluhan sampai ratusan tahun
yang lalu, para sejarahwan masih bisa berpatokan pada tulisan/jurnal
yang ditulis oleh peradaban masa lalu, entah itu terukir di prasasti
atau candi, tertulis di daun lontar, pelepah pohon, serat kayu, dinding
gua, dsb.
Tapi gimana dengan pengetahuan kita tentang kehidupan pra-sejarah
ketika manusia belum mampu "menyuarakan" keberadaannya berupa gambar
atau tulisan? Dari mana sih para ilmuwan arkeologist, palentologist, dan
ahli geologi bisa tau tentang kondisi dunia pada masa lampau sehingga
kita tau bahwa jutaan tahun yang lalu itu ada dinosaurus, ada manusia
purba, ada ikan hiu raksasa (megalodon), dlsb?
Seperti yang mungkin sebagian besar lo ketahui, sumber informasi
utama bagi para ilmuwan untuk meraba kehidupan pada zaman pra-sejarah
berasal dari fosil yang ditemukan. Fosil dalam arti
adalah sisa-sisa atau jejak mahluk hidup dari masa lalu yang terawetkan
secara alami memang bisa memberikan banyak informasi kepada kita yang
hidup di jaman modern tentang kondisi kehidupan di masa lampau. Dari
mulai kapan makhluk hidup yang terfosilisasi itu hidup, bagaimana
bentuknya, cara kerja sistem tubuhnya, sampai kondisi lingkungan pada
jaman makhluk itu hidup.
Fosil specimen Ida, Darwinius masillae. Diduga kuat sebagai nenek
moyang seluruh primata yang hidup sekitar 47 juta tahun yang lalu
Eh tapi tunggu dulu nih... sebelum kita percaya gitu aja dengan
omongan para ilmuwan itu. Pernah gak sih lo kepikiran darimana mereka
(para ilmuwan) bisa mendapatkan informasi sebanyak dan sedetail itu
hanya dengan menggali tulang-belulang? Gak usah jauh-jauh mikirin gimana
bentuknya makhluk itu dan cara hidupnya dulu deh... coba kita telaah
dulu pertanyaan yang lebih sederhana : Gimana caranya para ilmuwan tahu bahwa fosil yang ditemukan berasal dari ratusan, ribuan, atau bahkan jutaan tahun yang lalu?
Okay, pada kesempatan kali ini, gua akan membahas 2 pendekatan/metode yang dilakukan para ilmuwan untuk menjawab pertanyaan:
"Darimana para ilmuwan tahu umur dari fosil yang ditemukan?"
Pendekatan ilmu seperti apa sih yang dilakukan para ilmuwan untuk
mengetahui kejadian masa lampau? Apakah metode-metode yang dilakukan
betul-betul bisa dipertanggung-jawabkan? Sejauh mana sih tingkat akurasi
dari metode tersebut? Apakah proses cara kerja ilmuwan ini betul-betul
dilakukan secara teliti, presisi, sehingga layak diakui oleh seluruh
dunia?
Nah, pada tulisan kali ini gua akan
membahas 2 metode/pendekatan yang digunakan para ilmuwan untuk
mengetahui umur dari fosil, yaitu Radiocarbon Dating & Stratigrafi. Yuk kita langsung aja mulai pembahasannya!
1. Metode Radiometric Dating
Metode radiometric dating ini sangat umum
dilakukan oleh ahli arkeolog, yang pada intinya adalah menghitung
perbandingan unsur tertentu pada specimen fosil untuk kemudian
dibandingkan dengan kandungan unsur yang sama pada atmosfir dengan
prinsip waktu paruh peluruhan atom. Dari semua jenis radiometric dating ini, yang akan gua bahas adalah pendekatan unsur karbon atau lebih ngetren dengan istilah carbon dating atau C-14 dating. Metode ini dikembangkan oleh professor Kimia di Amrik bernama Willard Libby di akhir 1940an yang akhirnya menjadi metode standard bagi para arkeolog di seluruh dunia. Apa sih ide di balik metode ini?
Ketika seorang ilmuwan menemukan fosil yang belum teridentifikasi,
entah itu fosil hewan atau tumbuhan. Pertanyaan utama yang bikin
penasaran adalah "Ini fosil umurnya udah berapa tahun? ratusan tahun, ribuan tahun, atau jutaan tahun?". Nah untuk menjawab pertanyaan ini, gua mau bahas sedikit tentang pelajaran dasar Kimia tentang konsep isotop.
Kalian inget kan, jenis dan sifat dasar unsur itu ditentukan sama jumlah proton di dalem inti atom.
Kalau proton di atom ada satu, namanya Hidrogen. Kalau ada dua, namanya
Helium. Dan seterusnya bisa kita liat di tabel periodik seperti ini:
Nah, coba kita liat salah satu unsur, yang paling simpel aja,
Hidrogen. Hidrogen itu kan atom apapun yang punya satu proton. Tapi kan
komponen atom kan ngga cuma proton. Ada neutron dan elektron. Nah,
elektron dalam keadaan dasar jumlahnya pasti sama dengan proton, dan
kalau berubah bakal membuat atom tersebut jadi ion.
Tapi masalahnya jumlah neutron itu berbeda-beda. Contohnya, H-1
(Hidrogen-1) punya satu proton dan nol neutron. H-2 punya satu proton
satu neutron, dan H-3 punya satu proton dan dua neutron. H-1, H-2 dan H-3 adalah isotop dari Hidrogen.
Nama kerennya H-2 disebut Deuterium dan H-3 disebut Tritium. Mereka
sama-sama punya satu proton, tapi jumlah neutronnya berbeda.
Angka setelah nama unsur itu nunjukin jumlah proton dan neutron, yang
bakal mempengaruhi beberapa sifat unsur itu. Sifat pertama yang
berubah, adalah massa-nya, yang kedua adalah sifat radioaktivitas. Radioaktivitas atau peluruhan adalah reaksi yang terjadi pada inti atom itu sendiri karena sifat inti atom yang ngga stabil. Kita bisa liat di grafik di bawah, reaksi ini terjadi kalau perbandingan jumlah proton dan neutron ngga begitu seimbang.
Pada atom-atom radioaktif ini, terjadi peluruhan alias emisi partikel
yang jenisnya tergantung sama jumlah proton dan neutronnya. Kalau
protonnya lebih tinggi, biasanya yang dikeluarkan adalah partikel
bermuatan positif seperti partikel alfa (α), positron (b+) atau proton (p). Sebaliknya, kalau neutronnya lebih tinggi, yang dikeluarkan adalah yang negatif (b-) atau netral (n). Jenis-jenis peluruhan ini ngga gue bahas menyeluruh di sini, tapi yang penting adalah konsep "waktu paruh" (half-life). Konsep "waktu paruh" inilah yang menjadi kunci para ilmuwan untuk mengungkap pertanyaan "berapa tahun umur fosil ini?". Wah, apaan tuh konsep waktu paruh? Half-life atau waktu paruh adalah waktu yang dibutuhkan untuk sejumlah atom radioaktif meluruh setengahnya. Misalnya, Terbium-148 adalah atom radioaktif yang mengeluarkan partikel b+ dan menjadi Gadolinium-148, reaksi lengkapnya:
Waktu paruh dari Tb-148 adalah exactly satu jam. Apa
artinya? Kalau kita punya 100 atom Tb-148 sekarang, satu jam lagi kita
akan hanya punya setengahnya, alias 50 atom. Satu jam kemudian alias dua
jam dari sekarang, sisanya tinggal 25 atom. Intinya, jumlah dari atom radioaktif akan berkurang setengah setiap satu satuan waktu paruh. Di bawah ini contoh animasi dari detik 0 sampai 4 kali waktu paruh, di mana jumlah partikel udah berkurang jadi (0.5)4 alias seperenambelasnya.
Nah konsep waktu paruh itulah yang kita aplikasikan pada karbon untuk
mengetahui umur fosil. Kenapa karbon yang jadi tolak ukur? Soalnya
gini, karbon sendiri punya 15 isotop, mulai dari C-8 sampe C-22.
Kebanyakan dari isotop karbon ini sangat nggak stabil, alias waktu
paruhnya cepet banget. Tapi, ada satu isotop yang lumayan panjang waktu
paruhnya, yaitu C-14 dengan waktu paruh 5.730 tahun. C-14 ini terbentuk
di atmosfer, dari N-14 yang bereaksi dengan cosmic ray atau radiasi dari luar tata surya.
Sementara itu, fosil yang jadi sampel kita biasanya berupa makhluk
organik pada masa lampau, entah itu tanaman atau hewan. Tanaman
menggunakan CO2 ini untuk proses fotosintesis, sehingga C-14
tadi masuk ke tanaman, dan juga ke hewan yang memakan tanaman, lalu
hewan karnivora yang makan hewan herbivora. Karena semua makhluk
hidup berhubungan langsung dengan atmosfer dalam siklus karbon, kadar
C-14 di tubuh makhluk hidup akan hampir sama dengan yang di atmosfer,
yaitu 10-12. Tapi, waktu makhluk itu mati, dia langsung
terputus dari siklus karbon dengan atmosfer. Dari moment inilah kita
bisa menghitung waktu yang dilewati fosil tersebut setelah mati
berdasarkan perbandingan waktu paruh dari kadar karbon C-14 dengan kadar
C-14 yang ada di atmosfer saat ini.
Ketika makhluk hidup mati, tanaman ngga berfotosintesis lagi, yang
herbivor ngga makan tanaman berisi C-14 lagi, yang karnivor ngga makan
hewan berisi C-14 lagi. Nah, C-14 yang tersisa di sisa tanaman atau
hewan tersebut bakal mulai menghilang karena peluruhan tadi, dan kadar
C-14 di sisa tersebut mulai berkurang. Konsep ini sebenernya lo pelajari
di Fisika Radioaktif (kelas 12). Lo bisa lihat video di bawah ini untuk penurunan rumus waktu paruh ini:
Nah, seperti yang udah dijelasin di video di atas, berarti umur fosil bisa kita hitung dengan persamaan berikut ini:
t = waktu yang udah lewat setelah organisme ini mati
T = waktu paruh C-14, alias 5.730 tahun
N0 = kadar C-14 atmosfer sekarang
N(t) = kadar C-14 pada sampel
Kalau misalnya kadar C-14 atmosfer sekarang itu 10-12, dan ada sampel fosil pohon yang kadar C-14 nya tinggal 10-14, umurnya berarti:
Dari perhitungan di atas kita bisa mengambil kesimpulan bahwa sampel
fosil pohon tersebut berumur 38.070 tahun sebelum sekarang atau tahun
36.055 sebelum Masehi! Nah, sekarang lo ngerti kan kenapa para ilmuwan
berani ngomong bahwa fosil A umurnya 2.000 tahun, fosil B umurnya 10.000
tahun, fosil C umurnya 30.000 tahun? yang jelas sih para
ilmuwan ini gak cuma asal-asalan main tebak-tebakan yah. Ada metode yang
konkrit, ada tolak ukur yang jelas, dan ada indikator yang cukup
presisi untuk mendapatkan kesimpulan yang seakurat mungkin!
Untuk metode ini sebetulnya tidak selalu berpatokan pada karbon, ada
banyak bahan kimia lain yang menjadi indikator karena unsur C-14 ini
memiliki 'keterbatasan' tersendiri yaitu batas umur sampel fosil dan
perubahan kadar C-14 di atmosfer yang kerap berubah karena ulah manusia.
Pertama, umur fosil yang sudah amat sangat tua, menyebabkan kadar C-14
nya menjadi sangat kecil (makin banyak waktu yang dilewatin untuk
meluruh), sehingga ada batasan umur fosil yang bisa dianalisa dengan
memakai metode carbon dating ini. Biasanya, batas itu adalah
50.000 tahun, yang artinya fosil yang lebih tua dari 50.000 tahun akan
kurang akurat kalau dianalisa pake carbon dating ini. Terkecuali dalam beberapa kasus khusus dimana sample yang ditemukan sangat istimewa kondisinya.
Kedua, kadar C-14 di atmosfer kadang berubah secara drastis
dikarenakan pembakaran bahan bakar fosil (yang ngga ada C-14nya) yang
mengurangi kadar C-14 di atmosfer, dan sebaliknya tes nuklir yang
dilakukan beberapa negara bikin kadar C-14 atmosfer naik dua kali lipat
antara 1950 sampai 1963. Maka dari itu, kadar C-14 atmosfir tahun 1950
selalu jadi patokan kadar C-14 ‘sekarang’, dan angkanya selalu jadi
referensi dalam penghitungan.
Nah, terus gimana ceritanya untuk fosil yang lebih tua dari 50.000
tahun? Untuk specimen fosil yang lebih tua dari 50.000 tahun, para
peneliti menggunakan jenis unsur radioaktif lain yang biasa dipake untuk
mengukur umur fosil yang sangat tua, contohnya K-40 yang meluruh jadi
Ar-40 dengan paruh waktu 1,25 milyar tahun. Karena paruh waktunya yang
puanjang banget ini, biasanya metode K-Ar dating dipakai untuk
batu dan mineral yang usia absolutnya antara 200.000 sampai 5.000.000
tahun. Sementara itu untuk specimen yang berumur di atas 5 juta tahun
seperti fosil dinosaurus yang berumur > 65 juta tahun, digunakan
metode fission track dating yang menganalisa kandungan uranium di mineral lapisan (strata) tanah tempat fosil tsb ditemukan.
2. Metode Stratigrafi
Stratigrafi ini cabang dalam geologi yang meneliti lapisan bumi,
tepatnya lapisan batuan di lapisan terluar bumi alias kerak, dan
terbentuknya lapisan-lapisan itu. Bidang ini pertama diteliti mendalam
sama Nicolas Steno
tahun 1669, yang bikin teori dasar agar para ilmuwan bisa menganalisa
umur fosil berdasarkan letaknya di lapisan tanah yang berbeda. Nah,
masing-masing lapisan itu disebut stratum, kalo banyak disebut strata.
Coba deh liat contoh strata tanah di bawah:
Setiap lapisan atau stratum ini terbentuk secara natural dan tebelnya
bisa beberapa mili doang sampe setebel satu kilometer. Setiap lapisan
ini represents satu pembentukan endapan tertentu yang kita bisa
cari tau dari isi lapisan itu. Lapisan bisa terbentuk dari endapan
sungai, lava letusan gunung berapi, rawa, pasir pantai, dan lain-lain.
Nah, pada prinsipnya ilmu stratigrafi ini memungkinkan para ilmuwan
untuk memperkirakan waktu umur fosil dari lokasi lapisan tanah tempat
fosil tersebut ditemukan. Di artikel ini, gue mau bahas 5 prinsip dasar
dalam stratigrafi yang membantu arkeolog, paleontolog, dan sejarahwan
untuk tau dari era kapan suatu fosil itu berasal.
1. Law of Superposition
Prinsip pertama dari metode stratigrafi adalah: makin rendah lapisan
tanah tempat lokasi fosil ditemukan, berarti makin tua umurnya. Mungkin
ini kedengerannya simpel banget, tapi emang pada dasarnya kalau
keadaannya ngga diusik sesuatu, lapisan tanah yang di bawah pasti
tertimbun oleh lapisan di atasnya. Terus menerus begitu hingga ribuan
tahun dan membentuk strata atau lapisan tanah yang berlapis. Prinsip ini
simpel banget untuk dipake kalo kita mau membandingkan apakah fosil A
lebih tua apa lebih muda dari fosil B.
Asumsinya, kalo bangkai hewan atau sisa tanaman mati kan kemungkinan
besar diem aja di permukaan tanah, dan seiring dengan waktu lapisan
tanah makin tertutupi oleh debu, tanah, air hujan, lapisan tanah yang
terbawa aingin karena letusan gunuh berapi, dlsb. Pengecualian juga
terjadi kalo ada aktivitas manusia atau manusia purba yang membuat
struktur atau bangunan tertentu yang perlu menggali tanah. Kalo ada,
bisa dianalisa pake yang namanya Harris Matrix. Sedikit banyak Matrix ini pake prinsip nomor 4 yang akan gue bahas di bawah.
2. Principle of Original Horizontality
Prinsip ini juga simpel idenya. Intinya, semua endapan yang bikin
lapisan itu semua akan buat lapisan yang secara umum horizontal alias
rata. Walaupun awalnya tanah itu ngga rata, karena ada gravitasi, erosi
akan selalu nyebarin tanah supaya jadi rata. Tapi kenapa ada tanah yang
naik turun kaya bukit dan jurang tanpa buatan manusia? Sebabnya adalah
gaya yang lebih besar yang ada di lapisan yang lebih rendah,
serta pergerakan di kerak bumi, alias teori plate tectonics. Pergerakan inilah yang bikin adanya lapisan yang ngga horizontal karena adanya force
yang bikin tanah di daerah tertentu naik atau turun. Pengecualian ada
di lapisan tertentu kaya pasir, yang bisa membentuk lapisan yang
miring-miring.
3. Principle of Lateral Continuity
Prinsip ini juga simpel. Intinya, semua endapan itu nyebar ke semua
arah. Kalau ada lapisan tanah yang mirip tapi terpisah sama sesuatu,
bisa diasumsi bahwa dulunya mereka nyambung. Kira-kira gambarnya kaya
gini:
4. Principle of Cross-cutting Relationships
Prinsip ini mengatakan kalo ada sesuatu yang bikin potongan di satu
lapisan atau lebih, potongan itu lebih muda atau terjadi belakangan
ketimbang lapisan yang terpotong. Misalnya ya, suatu hari kamu nemuin
LEGO yang retak kaya gini:
Kalian bisa simpulin bahwa kejadian retaknya itu (karena kebentur
atau sesuatu yang lain) terjadi setelah LEGO itu disambung, karena
hampir ngga mungkin bikin dua retakan di biji LEGO yang terpisah yang
pas ditempel jadi nyambung kan? Pasti tadinya dibikin dulu kaya gini:
Baru deh somehow jadi retak. Prinsip yang sama berlaku di
lapisan tanah, kalau ada potongan yang nembus lapisan tertentu, potongan
itu terjadi setelah lapisan itu ada. Kuis kecil nih, liat deh gambar di
bawah ini:
Pake prinsip-prinsip yang udah kita bahas, bisa ngga kalian tentuin urutan lapisan A sampe K, dari paling tua sampe paling muda?
5. Principle of Faunal Succession
Prinsip ini berhubungan sama makhluk hidup yang berkeliaran waktu
lapisan tanah lagi terbentuk nih. Karena naturalnya bangkai tanaman atau
hewan itu cuma tergeletak begitu aja di tanah, dia ikut masuk ke
lapisan tanah yang lagi terbentuk saat dia mati. Dan karena umur fosil
dari makhluk hidup A dan B yang hidup di jaman yang berbeda pasti bakal
ditemukan di lapisan yang beda juga. Seperti prinsip nomer 1 tadi,
makhluk hidup yang hidup di masa lebih deket ke sekarang fosilnya bakal
ditemukan lebih deket ke atas (lebih muda).
Di sini, konteks dan penjelasannya sangat berkaitan dengan ilmu
biologi dan teori evolusi, sebagai contoh: para ilmuwan sekarang bisa
mengambil kesimpulan bahwa burung (aves) yang sekarang memiliki sayap
dan bisa terbang adalah hasil evolusi dari makhluk hidup sebelumnya yang
belum bisa terbang, which is dinosaurus. Seiring waktu
berlalu, fungsi sayap itu terbentuk secara sederhana, hingga menjadi
semakin kompleks dan akhirnya bisa digunakan untuk terbang. Para ilmuwan
mengambil kesimpulan ini dari serangkaian fosil menunjukkan proses
evolusi burung dari dinosaurus. Di fosil yang ada di lapisan lebih
bawah, ditemuin yang ada bulu kecil dan simpel. Lalu, yang lapisannya
makin ke atas (makin muda) bulu yang ditemukan makin muda makin besar
dan memungkinkan organisme berbulu itu terbang.
Selain dua metode radiometri dan stratigrafi yang udah gue bahas, ada beberapa metode lain misalnya dendrokronologi (penghitungan lingkar pohon), dan epigrafi (penelitian arti peninggalan tertulis dari segi bahasa), yang dipake selain untuk mengetahui umur suatu sampel, juga untuk crosscheck
metode-metode lain. Biasanya untuk mencari tau umur suatu sample,
dipake beberapa metode yang relevan lalu dibandingin hasilnya, dan harus
konsisten supaya para ilmuwan mendapatkan kesimpulan yang akurat dan
tidak bias oleh kesalahan perhitungan yang cuma fokus pada 1-2 metode.
ini lanjutan buat kalian yg udah baca page sebelumnya ,hay para farmasi dan lainnya
hari pertama gue masuk dan gue jadi bagian dari perusahaan ini sebagai inspector effervecent Quality assurance nah jadi gue bakal kasih tau dulu nih detailnya
Beda QA & QC nah jadi ini bedanya buat kita yg farmasi biasanya akan masuk QA disebuah perusahaan farmasi soalnya tugas keduanya itu beda
QA: memastikan bahwa semua proses produksi bahan baku dan alat alat atau mesin sesuai dengan standar atau cpob
QC ; mengecek atau mengukur dan melalukan serangkaia analisa untuk memastikan bahan baku sesuian denganstandart
jadi dengan kata lain QA itu mastiin QC yg ngukur gitu singkatnya wkwkwk
dan gue QA ipc effervecent buat lu anak farmasi yg gatau apa itu effervecent lu gausah kerja lu sekolah lagi aja wkwkw Tablet effervescent adalah sebagai bentuk
sediaan yang menghasilkan gelembung gas sebagai hasil reaksi kimia dalam
larutan. Gas yang dihasilkan umumnya adalah karbondioksida (CO2)
tapi gue yg serbuk nah produk nya itu lasegar larutan penyegar sama enao
ya begitu contohya . tugas gue melakukan cek kebocoran sachet , cek keseragaman bobot dan cek batch dan ub tau exp date. kita yg mengendalikan disana semua harus berdasar persetujuan kita . jadi tanggung jawab kita lumayan besar disana . gue dikontrak selama setahun dengan salary umr dan tunjangan bla bla wkwk sekian dulu
hay hay semua gue gatau kalo gue punya blog dulu wkwkw so ya niat hati mau buat blog baru eh tapi udah punya wkwk oke duh jadi nyeloteh gue wkwkw ,so lanjut aja oh ya gue baru aja abis kontrak dari pt sinde ini bagi yg belum tau ini pabrik ini tuh pabrik minuman penyegar cap badak gue bakal lansung mulai dari saat gue tahap interview ini ditujukan buat temen temen yg kali aja berminat kerja disana ini alamatnya
PT. Sinde Budi Sentosa
Jl. Raya Diponegoro No.35 · +62 21 8801040
pt ini punya 5 plant yg berjejer sepanjang jalan tambun itu
kalau mau kerja disini bisa aplly ke pt nya langsung aja
gue bekerja sebagai QA atau QC disana nah diawal nya tuh gue tau dari sekolah gue bahwa sinde lagi buka lowongan tuh nah gue langsung kirim aja ga lama langsung ada panggilan .
tahap tahapnya
-tes matematika sederhana
ini sumpeh sederhana cuma sebagai syarat aja kayaknya soalnya merekaliat nya tuh dari interpersonal diri kita aja gue tes ber 20 setelah tes mtk diumumin bahwa yg lolos ada 5 tuh nah lanjut tes wawancara cuy iya wawancara cepet and simple bgt kan.
- tes wawancara
nah kita tes wawacara ditanya ya biasa lan keadaan keluarga dsb and i have trick jadi kalo lu ditanya tentang masalah demo , lu bilang aja yg baik baik seakan lu gasuka demo soalnya beberapa perusahaan suka sensitif masalah ini so kepp careful,
oya wawancara ini pertama ama HRD pa nino namanya terus sama user atau atasan kita nantinya gitu
-tes kesehatan
gile gapercaya kan lu kalo langsuung hari itu juga medical nya wkwk ya itu nyatanta kita langsung sehari itu buat keseluruhan tesnya jadi no php gitu
gue tes dari jam 7- 15 sore nah tahap nya santai dan asik ga ada krapelinkrapelinnan wkwkw gaada gambar gambaran wkwkwk
setelah itu nunggu seminggu untuk kita nunggu hasil tesnya dah walla alhamdulilah gue masuk dan resmi jadi bagian dari perusahaan ini........